BLITAR KAWENTAR - Muktamar NU 2015 di Jombang menjadi salah satu forum paling panas dalam sejarah NU era reformasi. Perubahan mekanisme pemilihan Rais Am memicu perdebatan sengit hingga sidang pleno dihentikan setelah terjadi kericuhan.
Di tengah suasana tersebut, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus maju ke mikrofon dengan mata berkaca-kaca dan meminta semua pihak kembali tenang.
Muktamar ke-33 NU itu digelar pada Agustus 2015. Salah satu persoalan yang menjadi sumber ketegangan adalah aturan mengenai pemilihan Rais Am, pemimpin tertinggi dalam struktur NU.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Kejar 64 Juta Pekerja Informal yang Belum Terlindungi, Ini Strateginya
Saat itu muncul gagasan agar pemilihan Rais Am tidak lagi dilakukan melalui voting seluruh peserta muktamar. Mekanisme tersebut hendak diganti dengan sistem ahlul halli wal aqdi atau Ahwa.
Dalam mekanisme Ahwa, sejumlah kiai sepuh melakukan musyawarah secara tertutup untuk menentukan pemimpin. Pendukung sistem ini menilai cara tersebut dapat mengembalikan marwah kiai dan menghindarkan pemilihan dari nuansa kampanye seperti politik.
Namun, pihak yang menolak menilai perubahan mekanisme tersebut tidak sesuai dengan aturan dasar organisasi dan berpotensi memengaruhi hasil pemilihan dari belakang layar.
Baca Juga: Sertifikat KW4, KW5, KW6 Disebut Rawan Picu Sertifikat Tanah Ganda
Perdebatan kemudian tidak berhenti pada perbedaan pendapat di forum. Sidang pleno malam itu memanas hingga terjadi baku hantam di tengah arena. Petugas keamanan bahkan harus turun tangan dan menarik sejumlah orang keluar dari lokasi.
Di tengah situasi tersebut, Gus Mus yang ketika itu menjadi Rais Am sementara tampil di hadapan peserta.
Tokoh NU yang dikenal dengan sikap lembut itu menyampaikan permintaan agar suasana kembali tenang. Ia bahkan mengatakan rela mencium kaki semua orang di ruangan tersebut demi meredakan konflik.
Momen itu kemudian menjadi salah satu kejadian yang paling dikenang dari Muktamar NU 2015.
Namun, persoalan tidak langsung selesai setelah muktamar ditutup. Kubu yang tidak menerima hasil muktamar kemudian melakukan perlawanan melalui jalur hukum.
Lebih dari 20 dari 34 pengurus wilayah NU disebut menolak hasil muktamar. Pada awal September 2015, gugatan diajukan ke pengadilan dengan tudingan adanya manipulasi tabulasi suara dan peserta siluman.
Baca Juga: Setelah Pengukuran, Ini Tahapan Pendaftaran Tanah hingga Sertifikat Terbit
Pengamat NU ketika itu menilai muktamar tersebut termasuk salah satu yang paling berat sejak era reformasi.
Di tengah konflik itu, terdapat satu nama yang kemudian semakin menonjol dalam struktur PBNU, yakni Yahya Cholil Staquf.
Sosok yang kini dikenal sebagai Gus Yahya tersebut kemudian menjadi Ketua Umum PBNU dan kembali menjadi salah satu tokoh sentral menjelang Muktamar NU ke-35 pada 2026.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Warisan, Ini Syarat dan Tahapan Pengurusannya di Kantor Pertanahan
Kondisi inilah yang membuat Jombang kembali menjadi sorotan. Sebelas tahun setelah Muktamar NU 2015, organisasi yang memiliki basis massa sangat besar itu kembali akan menggelar muktamar di wilayah yang sama.
Perbedaannya, persoalan yang mengiringi Muktamar NU 2026 jauh lebih berlapis. Selain perebutan posisi ketua umum, terdapat persoalan internal, pengelolaan tambang, serta hubungan organisasi dengan politik praktis.
Muktamar 2015 menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan di dalam NU bisa berkembang menjadi konflik terbuka ketika kepentingan dan mekanisme organisasi dipersoalkan.
Baca Juga: Lirik Syi'iran Muktamar Ke-35 NU 2026 Nurin Nabila, Sarat Doa untuk Indonesia
Kini, Jombang kembali menjadi tempat NU menentukan arah organisasi. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan memimpin, tetapi apakah luka dari konflik sebelumnya benar-benar sudah sembuh.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari