BLITAR KAWENTAR – Nama Mbah Moedjair tak pernah lepas dari sejarah ikan mujair. Sosok yang dikenal sebagai Pahlawan Perikanan Darat dari Blitar itu kembali dikenang masyarakat dan keluarga besar dalam haul ke-69 di area makam Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Senin (7/9).
Haul Mbah Moedjair diisi dengan khotmil Quran dan doa bersama. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya mengenang jasa tokoh yang memiliki peran besar dalam perkembangan perikanan air tawar Indonesia.
Usai doa bersama, masyarakat dan keluarga melakukan tabur bunga di pusara makam Mbah Moedjair dan istrinya, Mbah Partimah.
Baca Juga: Desil Penerima Bansos, Cek Peringkat Kesejahteraan dan Jenis Bantuan
Tradisi tersebut menjadi salah satu rangkaian untuk mengenang perjuangan Mbah Moedjair yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya melalui budidaya ikan mujair.
Salah satu cicit Mbah Moedjair, Satrio Wibowo, mengatakan kegiatan haul menjadi momentum keluarga dan masyarakat untuk kembali mengingat jasa leluhurnya.
“Setelah doa bersama, ada tabur bunga di pusara makam Mbah Moedjair dan istrinya, Mbah Partimah,” ujar Satrio.
Baca Juga: Edukasi 3O+1D dan CERDIK, Cara Poltekkes Kemenkes Malang Cegah Stroke dari Hipertensi
Sejarah ikan mujair bermula dari perjalanan Mbah Moedjair pada 25 Maret 1936. Kala itu, dia menemukan cikal bakal ikan mujair di muara Sungai Serang, Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo.
Wilayah tersebut memiliki karakter air payau. Ikan yang kemudian dikenal masyarakat sebagai ikan mujair itu pada awalnya disebut iwak laut.
Namun, perjalanan untuk membudidayakannya tidak mudah. Mbah Moedjair harus berusaha keras agar ikan yang berasal dari perairan payau tersebut dapat hidup dan berkembang di air tawar.
Perjuangan itu bahkan membuat Mbah Moedjair harus berjalan kaki dari Desa Papungan menuju Desa Serang hingga 10 kali. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Ikan yang awalnya ditemukan di muara Sungai Serang itu berhasil dibudidayakan di kolam air tawar yang berada di Desa Papungan.
Keberhasilan tersebut kemudian menjadi tonggak penting dalam perkembangan ikan mujair sebagai salah satu komoditas perikanan air tawar.
Baca Juga: Desil Penerima Bansos 1-5, Ini Kategori yang Berpeluang Mendapat Bantuan
Ikan tersebut memiliki nama latin Oreochromis mossambicus. Di masyarakat, ikan itu kemudian lebih dikenal dengan nama lokal ikan mujair.
Penyematan nama lokal tersebut juga menjadi bentuk penghargaan pemerintah terhadap jasa Mbah Moedjair. Nama mujair mulai digunakan sebagai penghormatan atas perjuangannya sejak era 1940-an.
Mbah Moedjair sendiri wafat pada usia 67 tahun, tepat pada 7 September 1957. Ia kemudian dimakamkan di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro.
Baca Juga: Usulan Pembaruan Data Cek Bansos, Ini yang Perlu Diperhatikan
Lokasi makam tersebut memiliki arti penting dalam sejarah ikan mujair. Desa Papungan menjadi tempat Mbah Moedjair berhasil mengembangkan ikan tersebut di kolam air tawar setelah melalui perjuangan panjang.
Haul ke-69 yang digelar tahun ini menjadi momentum bagi masyarakat dan keluarga untuk kembali mengenang ketekunan Mbah Moedjair.
Perjuangannya dalam menemukan sekaligus mengembangkan ikan mujair menjadi bagian dari sejarah perikanan darat yang melekat dengan Blitar. (ynu/c1)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari