Polytron Fox 350 Dipakai 350 Km, Baterai 3,7 kWh Ternyata Bisa Tempuh Sejauh Ini

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 19:10 WIB
Polytron Fox 350 dipakai hampir 350 km dengan baterai 3,7 kWh. Simak performa, jarak tempuh, biaya charging, fitur, serta kekurangannya. (PINTEREST)
Polytron Fox 350 dipakai hampir 350 km dengan baterai 3,7 kWh. Simak performa, jarak tempuh, biaya charging, fitur, serta kekurangannya. (PINTEREST)

JAKARTA - Polytron Fox 350 diuji pemakaian selama satu minggu dengan jarak hampir 350 kilometer. Dari pengalaman tersebut, motor listrik ini mendapat sejumlah catatan, tetapi juga menunjukkan beberapa keunggulan yang cukup menonjol, terutama pada tenaga, kenyamanan posisi duduk, kapasitas baterai, bagasi, serta efisiensi biaya pengisian daya.

Pengujian dilakukan setelah motor digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Selama pemakaian, sejumlah karakter motor mulai terasa, termasuk ketika menghadapi kemacetan, jalan bergelombang, tanjakan, hingga perjalanan pulang-pergi dengan jarak puluhan kilometer.

Salah satu kekurangan yang dirasakan adalah panel speedometer yang belum memiliki jam. Bagi penguji, fitur sederhana tersebut cukup penting karena dapat memudahkan pengendara melihat waktu tanpa harus menggunakan perangkat lain.

Masalah lain muncul pada windshield. Bagian tersebut menimbulkan bunyi berdecit ketika motor melewati jalan bergelombang atau permukaan yang tidak rata. Suaranya lebih terasa ketika pengendara tidak menggunakan helm, sedangkan ketika helm dipakai bunyi tersebut relatif tidak terlalu terdengar.

Suspensi belakang juga menjadi perhatian. Dengan bobot penguji yang disebut sekitar 130 kg, karakter suspensi dinilai masih agak kaku. Karena itu, muncul pertimbangan untuk menggunakan shockbreaker aftermarket yang sesuai.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Dipakai 350 Km, Ini Kelebihan dan Kekurangan yang Dirasakan

Ada getaran saat macet dan catatan di tanjakan

Polytron Fox 350 juga memiliki standar dua yang dapat menimbulkan bunyi ketika motor melewati jalan tidak rata dengan kecepatan tertentu. Berdasarkan informasi dari grup yang disebut penguji, bagian tersebut bisa diakali dengan menambahkan busa atau mengganti per standar.

Pada area spatbor depan, terdapat bagian yang tidak tertutup penuh sehingga penguji dapat melihat langsung ke area bawah dari posisi atas. Finishing plastik di bagian laci juga dinilai masih kurang halus. Beberapa permukaan terasa kasar dan cukup tajam sehingga perlu diperhatikan, terutama jika ada anak kecil yang menyentuhnya.

Ketika digunakan dalam kondisi macet pada kecepatan sekitar 7-8 km/jam, muncul sensasi seperti "geredek". Getaran tersebut terasa hingga ke bagian setang. Menurut penguji, sensasi tersebut tidak terlalu parah, tetapi tetap dapat dirasakan ketika motor bergerak perlahan.

Catatan yang lebih penting muncul saat motor digunakan melewati tanjakan yang diperkirakan memiliki kemiringan sekitar 15-17 derajat. Saat itu, motor harus berhenti karena kendaraan listrik lain di depan tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Polytron Fox 350 kemudian kembali melaju menggunakan mode S. Motor memang mampu melewati tanjakan, tetapi setelah sampai di atas, indikator M berkedip merah dan muncul kode E2.4 pada trip meter.

Penguji merujuk buku panduan yang menyebut kode tersebut berkaitan dengan kondisi belt atau dinamo yang terlalu panas. Motor kemudian didiamkan selama beberapa menit. Setelah kembali berjalan santai menggunakan mode D dan menempuh sekitar satu kilometer, indikator tersebut akhirnya mati.

Tenaga 3.000 watt dan biaya pengisian hanya sekitar Rp6.400

Di sisi lain, Polytron Fox 350 mendapat apresiasi dari sisi performa. Motor menggunakan dinamo 3.000 watt dengan top speed hingga 95 km/jam pada mode S. Sementara mode D dibatasi sekitar 61 km/jam.

Posisi duduk menjadi salah satu peningkatan yang paling disukai. Dengan tinggi badan 171 cm, penguji merasa posisi kaki lebih nyaman dan dapat digunakan untuk sedikit selonjoran. Jok juga dinilai empuk sehingga mendukung penggunaan harian.

Bagasi menjadi nilai tambah lainnya. Ruang penyimpanan mampu menampung charger, kanebo, kabel extension, sandal, hingga jas hujan berukuran 5XL. Motor juga memiliki MCB yang perlu dimatikan sebelum dicuci.

Baterainya berkapasitas 72 volt 52 Ah atau sekitar 3,7 kWh. Dalam perjalanan dari rumah di Kebon Jeruk menuju kantor dan kembali, dengan total jarak 77,4 kilometer, baterai disebut masih tersisa 10 persen.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Dipakai 350 Km, Ini Kelebihan dan Kekurangan yang Dirasakan

Pengisian ulang menggunakan sekitar 3,7 kWh listrik. Dengan tarif listrik Rp1.699,53 per kWh yang disebut penguji, biaya pengisian diperkirakan sekitar Rp6.400. Angka tersebut menjadi salah satu alasan Polytron Fox 350 dinilai memiliki biaya operasional yang menarik.

Motor juga disebut memiliki klaim jarak tempuh hingga 130 kilometer. Berdasarkan pemakaian yang dilakukan, penguji memperkirakan jarak sekitar 100 kilometer masih memungkinkan dengan mempertimbangkan bobot dan gaya berkendara.

Fitur yang tersedia meliputi hill assist, cruise control, keyless, fungsi mundur, serta fast charging. Berdasarkan buku manual, sistem pengisian dapat menerima arus hingga 40 ampere.

Untuk baterai, tersedia sistem sewa Rp200 ribu per bulan. Selama masa sewa, baterai mendapat garansi. Jika baterai dibeli, garansinya disebut tiga tahun. Sementara dinamo dan kontrol masing-masing memiliki garansi satu tahun.

Setelah hampir 350 kilometer pemakaian, Polytron Fox 350 menunjukkan karakter sebagai motor listrik yang menawarkan tenaga dan kenyamanan, sekaligus efisiensi biaya pengisian. Namun, beberapa aspek seperti suspensi, bunyi windshield, finishing plastik, dan respons ketika menghadapi tanjakan berat masih menjadi catatan dari pengalaman tersebut.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Randy Waluya Nugraha
polytron fox 350 Polytron Maxi Scooter Baterai motor listrik motor listrik