Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Refleksi Hari Buku Nasional, Berikut Empat Faktor Penentu Minat Baca Warga di Blitar Menurut Disperpusarsip

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 17 Mei 2024 | 20:00 WIB
RAJIN: Warga sedang membaca salah satu koleksi buku di di perpustakaan Disperpusip Kabupaten Blitar.
RAJIN: Warga sedang membaca salah satu koleksi buku di di perpustakaan Disperpusip Kabupaten Blitar.

BLITAR - Minat baca warga Kabupaten Blitar mencapai 62,5 persen pada 2023. Capaian itu melebihi yang ditargetkan sekitar 61 persen untuk minat baca.

Dari suvei itu, ada sejumlah pemicu sehingga banyak yang lebih suka membaca melalui perangkat digital.

Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusarsip) Kabupaten Blitar, Dela Efa Neli, mengatakan bahwa masih terus berusaha meningkatkan minat baca warga Bumi Penataran.

Meskipun pada 2023 melampaui target mencapai 62,5 persen, hasil itu perlu ditingkatkan untuk mengejar target nasional 90 persen.

“Target tahun 2024 ini dapat mencapai 64,3 persen. Survei tingkat kegemaran membaca, terbagi menjadi dua bagian. Yakni, minat baca dari buku tekstual dan akses internet. Rata-rata mereka banyak di akses internet,” ujar Dela, sapaan akrabnya.

Dia melanjutkan, e-book dan bacaan buku atau berita yang ada di internet banyak diminati untuk dibaca warga.

Ada empat faktor bisa memengaruhi. Yakni, lingkungan keluarga, kebiasaan, dan budaya modern.

Selain itu, lingkungan sekolah atau kampus berpengaruh besar karena kini banyak pembelajaran memakai perangkat digital.

Perubahan budaya digital ini membuat warga lebih sering mengakses sumber informasi di internet.

Bila tidak dibekali dengan literasi yang baik, warga banyak menerima informasi kurang valid. Hal ini menjadi tantangan disperpusarsip untuk dapat menambah minat baca dengan literasi berkualitas.

Dia menyebut sudah berusaha menyasar sekolah-sekolah untuk mengadakan progam perpustakaan keliling.

Tentu dengan dibungkus hal-hal tidak membosankan. Yakni, mendongeng, read aloud, membaca nyaring, pembacaan puisi, dan literasi lainnya.

“Kami mengonsep kegiatan perpustakaan keliling untuk anak sekolah dapat menyukai literasi. Karena literasi tidak hanya membaca, tapi bisa bermusik, puisi, dan lainnya. Bahkan, kami baru saja mengadakan pelatihan mendongeng untuk guru SD agar diterapkan di sekolah,” ungkapnya.

Sayangnya, perpustakaan keliling hanya beroperasi dua kali dalam seminggu. Itu karena disperpusarsip kekurangan tenaga pustakawan yang membidangi progam perpustakaan keliling.

Hanya ada sembilan pustakawan termasuk kepala bidang yang ikut pergi ke sekolah dengan memakai mobil perpustakaan keliling.

Perempuan berkacamata ini menyebut hampir semua sekolah di Kabupaten Blitar pernah dikunjungi.

Namun, akhir-akhir ini sekolah yang ada di Kecamatan Ponggok, Sutojayan, dan Wlingi sering dikunjungi.

“Sebenarnya permintaan sekolah ingin dikunjungi perpustakaan keliling itu banyak. Namun, kami keterbatasan petugas. Juga ingin mengunjungi sekolah yang terpencil. Semoga saja ke depan dapat merata kunjungannya,” pungkasnya.(jar/c1/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #minat baca #Disperpusarsip