BLITAR - Blitar 14 Agustus 2024 Tim Peneliti dari Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang melakukan penelitian untuk mengembangkan film dokumenter Blitar masa mempertahankan kemerdekaan 1945-1950.
Penelitian ini diketuai oleh bapak Aditya Nugroho Widiadi, S.Pd., M.Pd., Ph.D dengan anggota Wahyu Djoko Sulistyo, S.Pd., M.Pd, Lutfiah Ayundasari, S.Pd., M.Pd, Dr. Ari Sapto, M.Hum. Penelitian ini melibatkan mahasiswa S2 pendidikan sejarah sebagai anggota peneliti, Muhammad Aqib Habibie, Mellina Nur Hafida dan Gedhe Ashari.
Proses riset dalam film ini dilakukan di Kabupaten Blitar dan Blitar kota sejak bulan April 2024 dan hingga bulan Agustus ini. Penggalian data masih tetap dilanjutkan untuk mengabadikan memori dan ingatan sejarah pada masa Blitar mempertahankan kemerdekaan anatara tahun 1945 hingga 1950.
Proyek ini tidak hanya menjadi upaya pelestarian sejarah, tetapi juga menjadi medium edukasi bagi generasi muda.
Film dokumenter ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Veteran Republik Indonesia (LVRRI), Dewan Harian Cabang 45 (DHC 45), dan komunitas album sejarah.
Dukungan ini memberikan akses kepada tim peneliti untuk mendapatkan data dan informasi yang akan menjadi dasar dalam pengembangan narasi film. LVRRI dan DHC 45 memiliki peran krusial dalam menyajikan perspektif dari para veteran dan pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa bersejarah di Blitar.
Sementara itu, komunitas album sejarah menyediakan berbagai dokumentasi visual yang menjadi sumber inspirasi dan referensi penting dalam proses kreatif pembuatan film.
Blitar merupakan salah satu wilayah yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada periode 1945 hingga 1950, Blitar menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk perlawanan terhadap pendudukan Jepang dan agresi militer Belanda yang mencoba untuk menguasai kembali Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.
Film dokumenter ini dikembangkan dengan tujuan untuk menyajikan memori ingatan dari sudut pandang pejuang dan masyarakat lokal yang mengalami langsung peristiwa-peristiwa tersebut. Dengan pendekatan ini, film ini tidak hanya sekadar menyajikan fakta sejarah, tetapi juga mencoba untuk menggali pengalaman emosional dan sosial yang dirasakan oleh para pelaku sejarah pada saat itu.
Blitar memiliki sejumlah monumen yang tersebar di berbagai daerah, yang menjadi saksi bisu dari perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Film dokumenter ini akan menampilkan lanskap beberapa monumen penting, termasuk Monumen Serangan Umum Wlingi di Lapangan Kenongo, Beru, Monumen TRIP di Tegalasri, Wlingi, Palagan Gadungan, Gandusari, Palagan Ngadirejo, Kota Blitar, Monumen TRIP di depan SMAN 1 Blitar, Monumen Sekolah Guru Laki-Laki, dan Monumen Perjuangan TGP.
Setiap monumen ini memiliki cerita dan makna yang mendalam, yang sering kali tidak diketahui oleh generasi muda. Misalnya, Monumen Serangan Umum Wlingi merupakan simbol dari perlawanan sengit yang dilakukan oleh rakyat Blitar terhadap penjajah.
Monumen ini didirikan untuk mengenang keberanian dan pengorbanan para pejuang yang mempertaruhkan nyawa mereka demi kemerdekaan.
Aditya Nugroho Widiadi, sebagai ketua tim peneliti, menjelaskan bahwa menampilkan monumen-monumen ini dalam film dokumenter memiliki tujuan yang lebih luas dari sekadar estetika visual.
"Kami ingin generasi muda memahami alasan didirikannya monumen-monumen ini, serta cerita sejarah yang ada di baliknya. Dengan cara ini, mereka tidak hanya melihat monumen sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol dari perjuangan dan semangat yang perlu dihargai dan dipelajari," ujarnya.
Salah satu keunikan dari film dokumenter ini adalah fokusnya pada narasi dari sudut pandang lokal. Seringkali, sejarah nasional lebih banyak diangkat dalam karya-karya dokumenter, sementara peristiwa-peristiwa lokal yang juga berperan penting dalam sejarah bangsa terabaikan.
Dalam film ini, tim peneliti berusaha untuk menghadirkan cerita dari perspektif pejuang dan masyarakat Blitar yang merasakan langsung dampak dari peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut. Wahyu Djoko Sulistyo, salah satu anggota tim peneliti, menekankan pentingnya pendekatan ini.
"Dengan menampilkan cerita dari perspektif lokal, kami berusaha untuk memberikan suara kepada mereka yang mungkin tidak terdengar dalam narasi sejarah nasional. Ini adalah upaya untuk menghargai kontribusi setiap individu dan komunitas dalam perjuangan kemerdekaan," katanya.
Blitar pada masa 1945 hingga 1950 merupakan salah satu daerah yang sangat dinamis, dengan berbagai peristiwa penting yang memengaruhi jalannya sejarah kemerdekaan Indonesia.
Salah satu peristiwa yang diangkat dalam film ini adalah perlawanan terhadap pendudukan Jepang, yang berlangsung di berbagai wilayah di Blitar. Perlawanan ini tidak hanya melibatkan para pejuang, tetapi juga masyarakat lokal yang bahu-membahu untuk melawan penjajah.
Selain itu, agresi militer Belanda juga menjadi fokus penting dalam film ini. Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, Belanda berusaha untuk kembali menguasai Indonesia melalui dua agresi militer.
Blitar, sebagai salah satu daerah yang strategis, menjadi medan pertempuran yang sengit. Banyak pejuang yang gugur dalam pertempuran ini, dan peristiwa-peristiwa tersebut meninggalkan bekas yang mendalam dalam ingatan kolektif masyarakat Blitar.
Pengembangan film dokumenter ini juga melibatkan partisipasi aktif dari mahasiswa S2 Pendidikan Sejarah.
Moch Aqib Habibi, Mellina Nur Hafida, dan Gedhe Ashari tidak hanya berperan sebagai asisten peneliti, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatan film, mulai dari pengumpulan data, wawancara dengan narasumber, hingga pembuatan skenario dan editing. Keterlibatan mahasiswa ini tidak hanya memberikan mereka pengalaman praktis dalam penelitian sejarah, tetapi juga membuka wawasan mereka tentang pentingnya pelestarian sejarah lokal.
"Sebagai mahasiswa, kami mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari para pelaku sejarah dan melihat bagaimana sejarah dapat dihidupkan kembali melalui media film. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga dan membuka mata kami tentang pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa," ujar Mellina Nur Hafida.
Salah satu tujuan utama dari pembuatan film dokumenter ini adalah untuk dijadikan sebagai bahan edukasi pada tingkat Sekolah Menengah Atas di Blitar. Dengan menggunakan film sebagai media pembelajaran, diharapkan siswa dapat lebih tertarik dan terlibat dalam mempelajari sejarah lokal mereka.
Pendekatan edukatif yang digunakan dalam film ini didasarkan pada prinsip Culturally Responsive Teaching (CRT). Prinsip ini menekankan pentingnya pengajaran yang relevan dengan budaya dan latar belakang siswa, sehingga materi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan diterima.
Lutfiah Ayundasari menjelaskan bahwa dengan pendekatan CRT, film ini akan menyajikan sejarah yang dekat dengan kehidupan siswa. "Kami ingin siswa merasa bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang jauh dari mereka, tetapi merupakan bagian dari identitas dan warisan yang harus mereka jaga dan pelajari," katanya.
Selain film, tim peneliti juga berencana untuk menyusun materi pendukung berupa panduan bagi guru untuk memanfaatkan film ini dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi alat yang efektif untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap sejarah lokal mereka.
Melalui film dokumenter ini, tim peneliti berharap dapat menggugah kesadaran sejarah di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Sejarah lokal seringkali kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan sejarah nasional, padahal peristiwa-peristiwa lokal memiliki peran penting dalam pembentukan identitas suatu daerah dan bangsa secara keseluruhan.
Ari Sapto, anggota tim peneliti, menekankan bahwa sejarah lokal seperti yang terjadi di Blitar pada periode 1945-1950 adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah nasional Indonesia. Menurutnya, dengan memahami sejarah lokal, kita juga akan lebih memahami bagaimana dinamika dan perjuangan di daerah-daerah berkontribusi terhadap keseluruhan proses kemerdekaan Indonesia.
"Peristiwa-peristiwa yang terjadi di Blitar mungkin tidak selalu mendapat sorotan dalam buku-buku sejarah nasional, tetapi mereka adalah bagian penting dari mozaik besar perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan memahami dan menghargai sejarah lokal, kita juga memperkuat identitas dan kebanggaan sebagai bangsa," kata Ari.
Tim peneliti berharap bahwa proyek ini tidak hanya berhenti pada pembuatan satu film dokumenter saja. Mereka berencana untuk terus menggali data untuk mengabadikan memori ingatan dari para pejuang.
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila