BLITAR – Di tengah upaya reformasi pendidikan nasional, satu pertanyaan mendasar muncul, siapa yang paling berperan membentuk masa depan anak?
Dalam sebuah diskusi yang mendalam tentang pendidikan, Syauqi Robbani bersama Gita Wirjawan, menekankan bahwa banyak orang salah kaprah dalam melihat sekolah sebagai faktor utama kesuksesan anak.
Padahal, guru adalah agen perubahan sesungguhnya.
“Saya berani bilang, sekolah saya enggak terlalu relevan terhadap apa yang saya capai sekarang,” ujar Gita.
Ia menceritakan bagaimana guru SD kelas 3 dan guru SMP-nya berhasil membangkitkan imajinasi dan memicu rasa ingin tahu yang akhirnya membangun fondasi kuat untuk karier dan intelektualitasnya.
Namun, tantangan terbesar dalam dunia pendidikan Indonesia adalah minimnya insentif bagi profesi guru.
Banyak guru hanya digaji sekitar Rp2,6 juta per bulan bahkan ada yang jauh di bawah angka tersebut.
Angka yang jauh dari layak apalagi jika dibandingkan dengan tuntutan profesionalisme dan peran strategis mereka dalam membentuk masa depan bangsa.
“Kalau guru digaji rendah, ya jangan heran kalau mereka lebih tergoda kerja di tempat lain,” katanya.
Gita berargumen bahwa teaching lebih scalable daripada parenting, karena guru bisa menjangkau 20 sampai 200 murid dalam satu waktu.
Maka investasi pada guru akan berdampak luas secara sistemik.
Baca Juga: Mantan PMI Blitar Ikut Pelatihan Kewirausahaan Interior Rumah di Workshop Disma House
Ironisnya, selama ini yang lebih diperhatikan adalah branding sekolah favorit, unggulan, bahkan internasional tanpa benar-benar melihat kualitas pengajarnya.
Padahal, satu guru hebat bisa menumbuhkan generasi pembelajar.
Pemerintah harus mulai mempertimbangkan proses perekrutan dari calon guru dari 10% teratas lulusan universitas, memberikan pelatihan berkelanjutan, hingga memberikan kompensasi layak yang sebanding dengan beban dan dampak pekerjaannya.
Editor : M. Subchan Abdullah