BLITAR KAWENTAR - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kota Blitar ikut angkat bicara mengenai fenomena sisa kuota siswa di sejumlah sekolah.
Dinas meminta agar penurunan jumlah pendaftar tidak serta-merta dijustifikasi akibat keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) saat ini, tetapi harus dianalisis secara komprehensif dari data kelahiran enam tahun ke belakang.
Kepala DPPAPPKB Kota Blitar, Mujianto, menjelaskan bahwa jika kondisi kurangnya siswa baru di tingkat SD saat ini disebut sebagai dampak program pengendalian penduduk, maka gambaran yang harus dilihat adalah angka kelahiran pada sekitar 2020 lalu. Sebab, anak-anak yang memasuki usia sekolah dasar tahun ini merupakan representasi dari angka kelahiran di tahun tersebut.
"Kalau sekarang disebut berdampak, berarti bukan dari program KB saat ini, melainkan sekitar enam tahun sebelumnya. Kita harus melihat bagaimana tren kelahiran di tahun 2020 lalu. Di samping itu, ada faktor fluktuatif lain seperti proses mutasi atau perpindahan penduduk masuk dan keluar dari suatu wilayah," ujarnya kepada Koran ini kemarin (16/7).
Mujianto menambahkan, saat ini jumlah masyarakat di Kota Blitar yang aktif mengikuti program KB tercatat berada di angka 14 ribuan lebih. Bersamaan dengan itu, pelayanan KB gratis untuk layanan akseptor Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi, serta Metode Operasi Wanita (MOW) juga terus berjalan secara konsisten.
Kendati angka kepesertaan KB cukup baik, dia menilai faktor tersebut terhadap dinamika jumlah siswa di sekolah tertentu tergolong kecil. Terlebih, pola pergerakan sekolah masyarakat saat ini sudah sangat dinamis.
BacBaca Juga: Ramalan Shio Naga 2026: Tahun Kuda Api Bawa Perubahan Besar, Karier hingga Cintaa Juga: 6 Shio Ini Diramal Banjir Rezeki Maret 2026, Ada Kerbau hingga Monyet
"Faktor geografis juga berpengaruh kecil, karena faktanya tidak semua anak sekolah di suatu wilayah tertentu otomatis bersekolah di tempat itu. Orang tua sekarang punya banyak pilihan tersendiri untuk anak mereka," imbuhnya.
Mengenai seberapa besar pengaruh konkret keberhasilan KB terhadap penurunan pagu sekolah, DPPAPPKB menegaskan belum bisa memberikan justifikasi tanpa data pembanding yang valid.
Secara makro, angka tingkat kelahiran (total fertility rate) di Bumi Bung Karno saat ini rata-rata berada di bawah angka 2. Namun, dampak dari angka tahun ini baru akan terasa untuk struktur usia sekolah enam tahun ke depan.
Baca Juga: Ramalan Shio Naga 2026: Tahun Kuda Api Bawa Ujian Besar dan Peluang Kesuksesan
"Yang paling tepat adalah mengumpulkan data jumlah anak usia sekolah yang mau masuk SD pada tahun berjalan, dari situ baru bisa kita analisis secara objektif. Kita tidak bisa langsung menjastifikasi, karena bisa jadi secara total, jumlah anak usia sekolah setiap tahunnya sebenarnya stabil," pungkasnya.
Sebelumnya, sejumlah SD Negeri di Kota Blitar diketahui tidak memenuhi pagu dan mendapat siswa kurang dari 10 anak, salah satunya SDN 3 Sukorejo. Kondisi ini sempat disinyalir dipengaruhi oleh keberhasilan program KB yang menekan laju pertumbuhan penduduk di Kota Blitar.(mg1/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah