Harga Daging Sapi di Blitar Rp140 Ribu per Kg, Pedagang Mengeluh Sepi Pembeli

JAKARTA - Harga daging sapi di Blitar masih bertahan di angka Rp140.000 per kilogram setelah Lebaran. Kondisi tersebut membuat pedagang di Pasar Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mengeluhkan penurunan omzet akibat sepinya pembeli. Persaingan dengan penjualan daging sapi secara daring yang ditawarkan jauh lebih murah, sekitar Rp100.000 per kilogram, turut menjadi sorotan. Pedagang menduga sebagian daging murah tersebut berasal dari sapi yang tidak sehat dan meminta dinas terkait segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan keamanan daging yang beredar di masyarakat.
Harga Daging Sapi di Blitar Masih Tinggi
Situasi pasar yang sepi menjadi tantangan bagi pedagang daging sapi setelah Lebaran. Harga daging yang masih tinggi dinilai memengaruhi daya beli masyarakat. Di sisi lain, munculnya penjual dari luar pasar dengan harga lebih rendah membuat pedagang yang berjualan di lapak resmi semakin tertekan.
Baca Juga: Antrean Pertalite di Blitar Mengular 4 Hari, 8.000 Liter Habis dalam 10 Jam
Berdasarkan laporan dari Pasar Wlingi, harga daging sapi di pasar tersebut masih berada di kisaran Rp140.000 per kilogram. Sementara itu, daging yang ditawarkan melalui media sosial disebut dijual dengan harga sekitar Rp100.000 per kilogram, bahkan ada yang ditawarkan di bawah angka tersebut.
Perbedaan harga yang cukup jauh itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pedagang. Mereka menilai persaingan menjadi tidak seimbang ketika penjualan di luar pasar berlangsung tanpa pengawasan yang memadai.
Pedagang juga meminta agar peredaran daging sapi yang tidak memenuhi standar kesehatan mendapat perhatian serius. Mereka berharap pemerintah tidak hanya memantau harga, tetapi juga memastikan daging yang dijual kepada masyarakat aman untuk dikonsumsi.
Omzet Pedagang Turun Drastis
Nina, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Wlingi, mengaku penjualannya mengalami penurunan drastis. Jika sebelumnya mampu menjual daging dalam jumlah cukup banyak, kini dirinya belum tentu bisa menghabiskan lima kilogram daging dalam sehari.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang dirasakan pedagang di tengah melemahnya permintaan dan persaingan harga. Menurut Nina, keberadaan penjual daging di luar pasar dengan harga lebih murah menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi penjualan.
Ia menduga sebagian daging yang ditawarkan dengan harga rendah berasal dari sapi yang tidak sehat. Nina juga menyebut adanya praktik penyembelihan sapi di rumah, yang menurutnya perlu mendapat perhatian dan pengawasan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Daging tersebut, lanjutnya, dipasarkan melalui media sosial dengan harga yang jauh di bawah harga daging sapi di pasar. Kondisi itu membuat pedagang resmi merasa kesulitan bersaing, terlebih ketika pembeli cenderung mempertimbangkan harga sebelum melakukan transaksi.
Meski demikian, dugaan mengenai asal-usul dan kondisi kesehatan daging tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan langsung oleh instansi berwenang. Kepastian mengenai kelayakan daging tidak dapat hanya ditentukan berdasarkan harga jual maupun lokasi penyembelihannya.



