BLITAR, jawatimur – Sebuah kisah mistis kembali menyita perhatian warganet setelah kanal YouTube Teman Dikala Malam merilis cerita nyata dari pengalaman Bondan, seorang pemuda yang menginap di rumah temannya di sebuah desa tua di Blitar.
Cerita ini menyoroti larangan aneh: tak boleh keluar rumah setelah jam 10 malam. Awalnya terdengar sepele, namun ternyata menyimpan ancaman yang mencekam.
Kisah ini bermula saat Bondan diajak menginap oleh Hanung, teman lamanya, di rumah keluarga Hanung yang sudah berdiri sejak zaman kolonial. Rumah tua itu terletak di ujung desa, dekat kebun dan sawah yang gelap saat malam.
Baca Juga: Pemkot Blitar Tegaskan Komitmen Cegah Bullying di Sekolah, Ini Pesan Penting Wawali Mbak Elim
Dari luar, tak ada yang aneh—tapi semua berubah ketika malam mulai datang dan jarum jam mendekati angka sepuluh.
Begitu azan Isya berkumandang, Hanung mulai menunjukkan perubahan sikap. Ia menutup semua jendela dan pintu dengan rapat. Tirai dilabuhkan. Bahkan ia mengecek semua lubang angin.
Bondan sempat bertanya, “Kenapa segitunya, bro?” Tapi Hanung hanya menjawab singkat, “Jam 10 ke atas, kita gak boleh terlihat dari luar. Di sini ada aturannya.”
Baca Juga: Masih Ada Jalan Rusak di Desa Candirejo Blitar, Pengendara Wajib Hati-hati
Menurut pengakuan Hanung, larangan keluar rumah setelah pukul 10 malam bukan hanya kepercayaan, tapi sudah jadi semacam "perjanjian tak tertulis" yang dianut warga sekitar. Siapa pun yang melanggarnya, konon akan mengalami gangguan dari sosok yang tidak bisa dijelaskan secara logika.
Bondan, yang awalnya menganggap itu cuma mitos lokal, mulai merasakan sendiri keanehan yang terjadi. Tepat pukul 10 lewat sedikit, suasana di dalam rumah berubah drastis. Udara mendadak dingin meski semua ventilasi tertutup.
Bau wangi aneh seperti bunga kamboja menyusup masuk ke dalam kamar.
Tak lama kemudian, terdengar suara gebrakan keras dari dapur. Seolah ada benda berat yang dijatuhkan. Ketika Hanung hendak mengecek, ibunya melarang dengan suara bergetar.
Baca Juga: Dua Destinasi Wisata di Blitar Ramai Dikunjungi Selama Libur Panjang Sekolah
“Jangan keluar. Minta maaf saja dalam hati,” katanya sambil menutup telinga dan membaca doa. Bondan yang mulai panik pun hanya bisa duduk terdiam.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berat di beranda. Langkah itu tidak seperti manusia, terlalu pelan namun terasa menghentak lantai kayu tua. Dari balik tirai, tampak bayangan besar melintas perlahan di depan jendela.
Tingginya hampir menyamai kusen pintu. Bentuknya tak jelas, tapi seolah sedang mencari sesuatu.
Baca Juga: Komisi I DPRD Kota Blitar Sebut Sosialisasi SPMB SMA/SMK Belum Maksimal
“Saya hampir buka jendela karena penasaran,” ujar Bondan dalam wawancara dengan kanal Teman Dikala Malam. “Tapi Hanung langsung tarik saya dan bilang, ‘Kalau kamu lihat dia, dia juga bakal lihat kamu.’ Kalimat itu bikin saya merinding.”
Larangan jam 10 malam ini bukan hal baru. Warga sekitar sudah lama mempercayainya sejak rumah-rumah pertama berdiri di daerah itu.
Menurut cerita turun-temurun, ada sosok gaib penjaga batas desa yang akan "menjemput" siapa saja yang terlihat berkeliaran atau mencoba melihat ke luar rumah di atas jam tersebut.
Pak Darto, salah satu warga tertua di desa, menceritakan bahwa dahulu ada seorang pendatang yang tidak percaya pada larangan ini.
Baca Juga: Pemkot Blitar Mulai Bahas Peluang Kerja Sama Koperasi Kelurahan Merah Putih dengan Perbankan
Ia keluar rumah pukul 11 malam karena ingin buang air kecil di sumur belakang. Esok paginya, ia ditemukan pingsan dengan wajah pucat dan luka cakaran di punggungnya.
“Dia gak ngomong apa-apa selama tiga hari. Setelah itu, baru bisa cerita kalau ada bayangan tinggi besar yang mengikutinya sampai ke sumur,” ujar Pak Darto. Sejak saat itu, semua warga mematuhi pantangan tersebut, dan anak-anak pun dibiasakan tidur sebelum jam 10.
Hal serupa juga disampaikan oleh Arya, narator Teman Dikala Malam, yang menyusun ulang kisah Bondan dalam bentuk cerita audio. Menurutnya, banyak tempat di Indonesia memiliki aturan serupa, namun yang terjadi di rumah Hanung terasa lebih nyata karena ada pola: bau bunga, suara langkah, bayangan besar, dan selalu terjadi setelah jam 10 malam.
Baca Juga: Eksklusif! Eks Bandar Ngaku Judi Online Tak Mungkin Dimenangkan Pemain: Semua Sudah Disetting
“Yang bikin kisah ini menarik adalah karena semua kejadiannya berulang secara konsisten dan dialami oleh beberapa orang berbeda,” jelas Arya. “Ini bukan sekadar cerita horor, tapi pengalaman nyata yang memperkuat betapa kentalnya hubungan manusia dan dunia tak kasatmata di pedesaan.”
Kisah mistis ini pun menambah deretan cerita urban legend Blitar yang kerap menjadi buah bibir masyarakat. Entah sugesti atau kenyataan, larangan jam 10 malam di rumah tua tersebut telah menjadi hukum sosial tak tertulis yang tak bisa ditawar.
Dan Bondan, yang awalnya menganggap semua itu cuma mitos kampung, kini mengaku tak akan pernah lagi meremehkan peringatan warga desa. “Kadang, kita gak perlu tahu apa yang sebenarnya di luar sana. Cukup jaga pintu, jaga mata, dan jaga sikap,” ujarnya menutup kisahnya.
Editor : Anggi Septian A.P.