Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jangan Pakai Urea Lagi Saat Pemupukan Padi Musim Hujan, Petani Blitar Ungkap Cara Hemat Biaya dengan Manfaatkan Nitrogen Alami dan Pupuk MKP untuk Pan

Rahma Nur Anisa • Selasa, 25 November 2025 | 04:15 WIB

Stop pakai urea berlebih! Rahasia pemupukan padi musim hujan hemat biaya dengan nitrogen alami dan pupuk MKP.
Stop pakai urea berlebih! Rahasia pemupukan padi musim hujan hemat biaya dengan nitrogen alami dan pupuk MKP.

BLITAR KAWENTAR - Manajemen pemupukan padi musim hujan yang tepat menjadi kunci sukses petani menghindari kegagalan panen di tengah curah hujan ekstrim. Channel Bedar Agropedia membagikan strategi pemupukan hemat biaya dengan memanfaatkan unsur nitrogen alami dari alam, tanpa perlu menambah pupuk urea pada pemupukan kedua.

Dalam video edukasinya, petani berpengalaman ini menjelaskan bahwa kebutuhan unsur makro NPK pada tanaman padi harus seimbang. Namun, di musim penghujan, unsur nitrogen dari alam sangatlah melimpah sehingga pemberian pupuk urea tambahan justru bisa merugikan.

Petani tersebut menunjukkan lahan padinya yang berumur 60 hari setelah tanam dan sedang memasuki masa generatif atau pengisian buah. Meski berada di musim penghujan ekstrim, daun tanaman padi tampak rimbun segar dan sehat berkat manajemen pemupukan padi musim hujan yang tepat.

Baca Juga: Viral Klaim Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiunan Cair 1 November 2025, TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah

Strategi Pemupukan Pertama Umur 20 Hari

Untuk pemupukan pertama yang dilakukan saat tanaman berumur sekitar 20 hari setelah tanam, petani ini menggunakan kombinasi pupuk Korea 50 kg untuk kebutuhan nitrogen awal. Kemudian untuk kebutuhan fosfor atau postpap menggunakan Fertipost 50 kg, ditambah pupuk majemuk Phonska 50 kg.

Kombinasi ini diberikan untuk memastikan tanaman padi mendapat nutrisi lengkap di fase awal pertumbuhan vegetatif. Dengan pemupukan pertama yang tepat, tanaman akan memiliki fondasi kuat untuk memasuki fase generatif.

Pemupukan Kedua Tanpa Urea

Yang menarik dari strategi pemupukan padi musim hujan ini adalah pada pemupukan kedua saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam. Petani tidak lagi menggunakan pupuk Korea atau urea karena tanaman padi sudah terlihat cukup unsur nitrogennya.

Baca Juga: Viral Rapel Kenaikan Gaji Pensiunan November 2025, TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah

"Untuk tanaman padi kelihatan sudah cukup unsur nitrogennya, hanya mengambil unsur nitrogen dari alam. Dan penambahan pupuk majemuk Phonska sudah cukup untuk fase generatif," ujar petani dalam videonya.

Untuk komposisi pemupukan kedua, ia menggunakan unsur fosfor atau postpap yaitu Fertipost 100 kg dan pupuk majemuk Phonska sekitar 50 kg. Untuk unsur nitrogen, ia hanya mengandalkan penyerap pupuk MKP guna penghematan biaya pemupukan.

Sumber Nitrogen Alami di Musim Hujan

Pertanyaan penting yang dijawab dalam video adalah dari mana saja sumber unsur nitrogen alami yang bisa dimanfaatkan tanaman padi di musim hujan. Menurut penjelasannya, unsur nitrogen dari alam antara lain berasal dari air hujan, udara, air irigasi, dan kandungan nitrogen alami dalam tanah.

Baca Juga: Cair 1 Desember 2025, Gaji Pensiunan Dibahas Ramai; TASPEN Tegaskan Belum Ada Kenaikan Pensiun Maupun Rapelan

Dengan melimpahnya nitrogen alami di musim hujan, penggunaan pupuk MKP menjadi pilihan tepat untuk penghematan biaya. Seperti diketahui, harga pupuk kimiawi konvensional sangat mahal, sehingga dengan penggunaan pupuk MKP dan nitrogen alami, petani bisa menekan biaya pemupukan secara signifikan.

Hasil dari strategi pemupukan padi musim hujan ini terlihat nyata. Kondisi tanaman padi tampak segar dan sehat, meskipun warna daunnya tidak terlalu hijau pekat. Yang penting, calon pengisian buahnya sudah maksimal dan siap menghasilkan panen berkualitas.

Bahaya Kelebihan Nitrogen di Musim Hujan

Sebagai perbandingan, petani tersebut menunjukkan lahan padi tetangga yang mengalami kelebihan unsur nitrogen karena tetap menggunakan pupuk urea berlebihan pada pemupukan kedua. Meski tanaman terlihat sudah cukup nitrogen, pemupukan kedua tetap menggunakan urea dalam jumlah banyak.

Baca Juga: Perjalanan Keras Wlingiwood dalam Dunia Perfilman di Blitar Raya hingga Sukses Terkenal di Luar Negeri

Akibatnya, tanaman padi mengalami kerusakan daun yang menguning, terutama pada daun tua. Buah tanaman padi masih tampak hijau dan belum cukup kuat dibanding tanaman yang dikelola dengan manajemen pemupukan tepat.

"Ini untuk bagian pengisian benih bulir padi yang bagian pangkal tidak bisa mengalami pengisian secara sempurna, karena untuk daun sudah rusak sehingga proses fotosintesis tidak bisa maksimal," jelasnya.

Meski sudah dilakukan pengobatan fungisida dan bakterisida secara teratur, kondisi tanaman susah membaik karena unsur nitrogen yang berlebih. Dalam kondisi lembab dan curah hujan tinggi, kelebihan nitrogen membuat tanaman rentan terserang penyakit belas daun yang sulit dihentikan.

Baca Juga: Konsumen Gas Melon di Blitar Melonjak, Pemilik Pangkalan Minta Pertamina Tambah Stok

"Ini ibarat manusia yang kadar gulanya sudah berlebih atau terkena diabetes, sehingga penyakit sulit disembuhkan," ibaratnya.

Kesimpulan Manajemen Pemupukan

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemupukan padi musim hujan harus dilakukan dengan manajemen yang baik. Jika ingin memiliki tanaman padi yang sehat dan berkualitas di musim hujan, hindari pemberian urea berlebihan dan manfaatkan nitrogen alami yang melimpah dari alam. (*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#manajemen pemupukan padi #nitrogen alami padi #cara hemat pupuk padi #pupuk MKP padi #pemupukan padi musim hujan