JAKARTA - Menemukan saham potensial 2026 tidak cukup hanya dengan melihat harga yang sedang turun atau mengikuti rekomendasi pasar. Investor perlu memahami valuasi perusahaan, kemampuan menghasilkan laba, pembagian dividen, serta prospek bisnis dalam jangka panjang. Dodi membagikan sejumlah pendekatan untuk menyaring saham yang berpotensi memberikan keuntungan, baik melalui dividen maupun kenaikan harga saham atau capital gain.
Bagi investor yang mengincar pendapatan rutin, saham pembagi dividen bisa menjadi salah satu pilihan. Sementara itu, investor yang mengejar pertumbuhan nilai investasi dapat mempertimbangkan saham dengan harga yang dinilai lebih rendah daripada nilai wajarnya.
Meski demikian, kedua strategi tersebut tetap membutuhkan analisis. Saham berharga murah belum tentu layak dibeli apabila kinerja perusahaan terus melemah atau prospek bisnisnya tidak menjanjikan.
Baca Juga: Review MSCI November 2026, Freeze Saham Indonesia Berpotensi Berlanjut hingga 2027
Tiga Cara Menyaring Saham Potensial 2026
Dodi menjelaskan bahwa investor dapat memanfaatkan perangkat penyaring saham untuk mempersempit pilihan sebelum melakukan analisis lebih mendalam. Dalam video tersebut, ia mencontohkan penggunaan InvestingPro, ProPicks AI, dan WarrenAI.
Pendekatan pertama adalah mencari saham yang dinilai memiliki valuasi rendah dibandingkan nilai wajarnya. Melalui fitur penyaringan saham, investor dapat menemukan perusahaan yang berpotensi diperdagangkan di bawah estimasi nilai intrinsiknya.
Dalam contoh yang ditampilkan, Dodi menyoroti sejumlah saham yang dianggap menarik berdasarkan hasil penyaringan. Namun, hasil tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai titik awal penelitian, bukan rekomendasi untuk langsung membeli saham tertentu.
Investor tetap perlu memeriksa alasan di balik valuasi murah tersebut. Harga saham bisa saja rendah karena pasar belum mengenali potensi perusahaan, tetapi bisa pula mencerminkan masalah fundamental yang sedang dihadapi emiten.
Metode kedua adalah menggunakan strategi penyaringan berbasis kecerdasan buatan melalui ProPicks AI. Perangkat ini membantu mengidentifikasi saham berdasarkan strategi tertentu sehingga investor tidak harus memeriksa seluruh saham di pasar secara manual.
Meski dapat mempermudah proses pencarian, hasil strategi yang ditampilkan tetap perlu dievaluasi. Kinerja historis atau hasil pengujian strategi pada masa lalu tidak menjamin keuntungan yang sama akan terjadi pada masa mendatang.
Metode ketiga menggunakan WarrenAI untuk mencari saham berdasarkan kriteria yang ditentukan investor. Misalnya, investor dapat meminta daftar perusahaan yang rutin membagikan dividen, mencatat laba bersih di atas Rp500 miliar, dan memiliki potensi kenaikan harga berdasarkan estimasi nilai wajar.
Dalam contoh video, Bank Mandiri ditampilkan dengan sejumlah indikator, termasuk imbal hasil dividen, riwayat pembayaran dividen, laba bersih, serta potensi kenaikan menuju nilai wajarnya. Angka-angka tersebut merupakan data yang ditampilkan dalam video dan dapat berubah mengikuti periode laporan serta pergerakan harga saham.
Menghitung Kebutuhan Dana untuk Hidup dari Dividen
Salah satu strategi yang dibahas adalah membangun portofolio saham untuk memperoleh pendapatan dari dividen. Sebelum menerapkannya, investor perlu menghitung kebutuhan dana dan perkiraan hasil investasi secara realistis.
Sebagai ilustrasi, seseorang yang membutuhkan Rp10 juta per bulan memerlukan Rp120 juta per tahun untuk memenuhi pengeluaran tersebut. Apabila portofolionya menghasilkan imbal hasil dividen sebesar 5 persen per tahun, nilai investasi yang dibutuhkan secara matematis mencapai Rp2,4 miliar.
Perhitungan tersebut masih berupa simulasi. Dividen tidak selalu dibagikan dengan jumlah yang sama setiap tahun, sementara imbal hasil juga dapat berubah mengikuti harga saham dan kebijakan perusahaan.
Selain itu, investor perlu mempertimbangkan pajak, biaya transaksi, inflasi, serta risiko penurunan harga saham. Karena itu, mengejar dividen tinggi tanpa menilai kesehatan keuangan perusahaan dapat meningkatkan risiko investasi.
Baca Juga: Review MSCI November 2026, Freeze Saham Indonesia Berpotensi Berlanjut hingga 2027
Analisis Fundamental Tetap Menjadi Penentu
Setelah menemukan saham melalui perangkat penyaring, investor perlu melakukan analisis fundamental. Dodi menekankan pentingnya memahami kualitas bisnis, harga pembelian, dan alasan saham tersebut diperdagangkan pada valuasi tertentu.
Pemeriksaan dapat dimulai dari model bisnis perusahaan, pertumbuhan pendapatan, laba bersih, arus kas, tingkat utang, hingga kemampuan mempertahankan keunggulan kompetitif. Investor juga perlu melihat apakah perusahaan memiliki prospek yang masuk akal untuk bertumbuh dalam jangka panjang.
Contoh lain dalam video adalah KLBF. Dodi menggunakan asumsi rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sebesar 17,5 kali dan laba bersih sekitar Rp3,7 triliun untuk memperkirakan nilai wajar saham tersebut. Berdasarkan perhitungan yang disampaikan, estimasi harga wajarnya berada di sekitar Rp1.400 per saham.
Angka itu bukan harga yang pasti akan dicapai pasar. Hasil valuasi sangat bergantung pada asumsi yang digunakan, kondisi bisnis, jumlah saham beredar, dan perubahan kinerja perusahaan.
Investor sebaiknya membandingkan hasil perhitungan dengan harga pasar sekaligus menilai apakah asumsi pertumbuhan dan profitabilitasnya realistis.
Pada akhirnya, mencari saham potensial 2026 membutuhkan kombinasi penyaringan saham, pemanfaatan teknologi, dan pemahaman fundamental. Perangkat analisis dapat membantu menemukan kandidat, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada data yang diperiksa secara mandiri, tujuan keuangan, serta kemampuan menanggung risiko.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Deddy Bicara Investasi