BLITAR KAWENTAR - Selawat Asghil di Indonesia memiliki perjalanan yang cukup panjang. Selain dikenal sebagai lantunan yang dibaca di masjid dan musala, selawat tersebut disebut pernah dipopulerkan melalui siaran radio oleh Yayasan Pesantren Asy-Syafi'iyah.
Selawat Asghil di Indonesia kemudian menjadi salah satu bacaan yang dikenal masyarakat dan diamalkan untuk memohon keselamatan serta perlindungan dari kezaliman.
Kisah tersebut kembali menarik perhatian setelah Selawat Asghil dibawakan dalam perayaan satu abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada 7 Februari 2023.
Dipopulerkan Yayasan Pesantren Asy-Syafi'iyah
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam, Apakah Boleh Memilih Hari Tertentu?
Berdasarkan materi yang disampaikan, Selawat Asghil pertama kali dipopulerkan di Indonesia oleh Yayasan Pesantren Asy-Syafi'iyah.
Pengenalan tersebut dilakukan melalui radio yayasan. Media radio pada masa itu menjadi sarana untuk menyebarluaskan lantunan keagamaan kepada masyarakat.
Yayasan Pesantren Asy-Syafi'iyah disebut berada dalam asuhan ulama besar Betawi, KH Abdullah Syafi'i. Dalam materi, ia disebut wafat pada 1406 Hijriah.
Kehadiran Selawat Asghil dalam siaran radio membuat lantunan tersebut semakin dikenal dan diamalkan oleh masyarakat.
Berkaitan dengan Perlindungan dari Kezaliman
Materi mengenai sejarah Selawat Asghil menyebut bahwa selawat tersebut dilantunkan dengan tujuan memohonkan rahmat Allah kepada Rasulullah SAW sekaligus memohon keselamatan dari kezaliman para penguasa.
Karena konteks tersebut, sejumlah ulama disebut menganjurkan umat Islam untuk sering membaca Selawat Asghil, baik secara individu maupun berjamaah.
Materi juga mengaitkannya dengan masa penjajahan Belanda. Pada periode tersebut, banyak ulama disebut membaca dan menganjurkan pengamalan Selawat Asghil.
Lantunan tersebut digunakan sebagai doa untuk memohon keselamatan dan perlindungan serta agar orang-orang yang melakukan kezaliman tidak dapat terus melakukan tindakan yang merugikan kaum muslimin.
Kembali Dikenal di Perayaan 1 Abad NU
Baca Juga: Kopi atau Matcha, Mana yang Lebih Gen Z? Ketika Minuman Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Identitas
Popularitas Selawat Asghil kembali terlihat ketika lantunan tersebut ditampilkan dalam acara perayaan satu abad NU.
Empat vokalis cilik membawakan selawat tersebut dengan penuh penghayatan. Penampilan mereka diiringi paduan suara dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.
Pertunjukan tersebut juga mendapatkan dukungan iringan orkestra yang dipimpin maestro musik Indonesia, Addie MS.
Penampilan tersebut membuat Selawat Asghil kembali menjadi perhatian publik. Lantunan yang sebelumnya akrab dengan suasana masjid dan musala tampil dalam pertunjukan berskala besar.
Memiliki Sejarah Panjang
Sejarah Selawat Asghil dalam materi juga dikaitkan dengan Imam Ja'far ash-Shadiq. Ia disebut sebagai sosok yang menyusun redaksi selawat tersebut dan hidup pada masa Dinasti Umayyah hingga awal Dinasti Abbasiyah.
Dalam kisah tersebut, Selawat Asghil berawal dari doa yang dibaca dalam qunut Subuh untuk memohon keselamatan dari kezaliman.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga dikenal di Indonesia dan dipopulerkan melalui radio Yayasan Pesantren Asy-Syafi'iyah.
Kehadiran Selawat Asghil dalam perayaan satu abad NU menunjukkan bagaimana sebuah lantunan keagamaan dapat terus dikenal lintas generasi.
Editor : Regina Gavin Agata