Dari Zaman Konflik hingga Perayaan 1 Abad NU, Ini Perjalanan Panjang Selawat Asghil

Regina Gavin Agata • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:05 WIB
Ilustrasi perjalanan panjang Selawat Asghil dari masa Imam Ja’far ash-Shadiq hingga perayaan 1 Abad NU.
Ilustrasi perjalanan panjang Selawat Asghil dari masa Imam Ja’far ash-Shadiq hingga perayaan 1 Abad NU.

BLITAR KAWENTAR - Sejarah Selawat Asghil memiliki perjalanan yang panjang dan berkaitan dengan kisah Imam Ja'far ash-Shadiq, kehidupan umat Islam pada masa konflik politik, hingga penyebarannya di Indonesia.

Sejarah Selawat Asghil kembali menjadi perhatian setelah lantunan tersebut dibawakan oleh empat vokalis cilik dalam perayaan satu abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Selasa, 7 Februari 2023.

Dalam acara tersebut, Selawat Asghil dibawakan bersama paduan suara Universitas Islam Negeri Sunan Ampel dan iringan orkestra yang dipimpin Addie MS.

Berawal dari Masa Penuh Konflik

Baca Juga: Begini Metode Pemilihan Ahwa Muktamar NU, 9 Ulama dengan Suara Terbanyak Dipilih

Dalam materi, Selawat Asghil disebut dikarang oleh Imam Ja'far ash-Shadiq, seorang yang disebut sebagai zuriat Rasulullah SAW.

Ia hidup pada masa Dinasti Umayyah dan awal Dinasti Abbasiyah. Kondisi politik pada masa tersebut digambarkan penuh dengan konflik dan intrik.

Zuriat Rasulullah SAW disebut mengalami persekusi, terutama pada masa kepemimpinan Yazid bin Muawiyah.

Dalam kondisi tersebut, Imam Ja'far ash-Shadiq disebut membaca doa ketika qunut Subuh bersama jamaahnya. Redaksi doa tersebut disebut sama dengan redaksi Selawat Asghil.

Doa tersebut berisi permohonan keselamatan sekaligus permohonan agar orang-orang yang melakukan kezaliman sibuk dengan pertikaian di antara mereka.

Imam Ja'far ash-Shadiq disebut wafat pada 138 Hijriah.

Masuk dalam Kitab Selawat

Dalam perkembangannya, Selawat Asghil juga disebut dengan nama yang berkaitan dengan Habib Ahmad bin Umar al-Hinduwan Ba'awi.

Materi menghubungkannya dengan kitab Al-Kawakib Al-Mudhi'ah fi Al-Akhbar Al-Bari'ah karya Habib Ahmad bin Umar yang disebut menghimpun Selawat Asghil.

Habib Ahmad bin Umar disebut wafat pada 1122 Hijriah.

Keterangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah Selawat Asghil sebelum kemudian dikenal secara lebih luas di Indonesia.

Baca Juga: Lirik Syi'iran Muktamar Ke-35 NU 2026 Nurin Nabila, Sarat Doa untuk Indonesia

Disebarkan Melalui Radio

Di Indonesia, Selawat Asghil disebut pertama kali dipopulerkan oleh Yayasan Pesantren Asy-Syafi'iyah melalui radio.

Yayasan tersebut disebut berada di bawah asuhan ulama besar Betawi, KH Abdullah Syafi'i, yang dalam materi disebut wafat pada 1406 Hijriah.

Penyebaran melalui radio membuat Selawat Asghil semakin dikenal masyarakat.

Selawat tersebut kemudian menjadi salah satu bacaan yang dilantunkan untuk memohon rahmat Allah bagi Rasulullah SAW serta keselamatan dari kezaliman.

Diamalkan pada Masa Penjajahan

Materi juga menyebut bahwa pada masa penjajahan Belanda, banyak ulama membaca dan menganjurkan pengamalan Selawat Asghil.

Selawat tersebut digunakan sebagai doa untuk memohon keselamatan dan perlindungan serta agar orang-orang yang melakukan kezaliman tidak dapat terus menzalimi kaum muslimin.

Tradisi membaca Selawat Asghil kemudian terus berkembang. Masyarakat disebut dapat membacanya secara individu maupun berjamaah.

Tampil dalam Perayaan Satu Abad NU

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Tak Harus Cari Weton Ini Penjelasannya

Perjalanan panjang tersebut kemudian menemukan momentum baru ketika Selawat Asghil ditampilkan dalam perayaan satu abad NU.

Empat vokalis cilik menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Penampilan tersebut diperkuat paduan suara UIN Sunan Ampel dan iringan orkestra yang dipimpin Addie MS.

Momen tersebut membuat Selawat Asghil kembali dikenal oleh masyarakat luas.

Dari kisah Imam Ja'far ash-Shadiq, penyebaran melalui radio, pengamalan pada masa penjajahan, hingga penampilan dalam perayaan satu abad NU, Selawat Asghil menjadi salah satu lantunan yang memiliki perjalanan panjang dalam materi sejarah yang disampaikan.

Editor : Regina Gavin Agata
Imam Ja'far ash-Shadiq selawat Asy-Syafi'iyah Sejarah Selawat Asghil nu