Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Pengabmas) di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Senin (7/9). Kegiatan yang diketuai Ns Dewi Rachmawati MKep tersebut menyasar penderita hipertensi dan kader kesehatan.
Ketua Program Studi D-3 Keperawatan Blitar Poltekkes Kemenkes Malang Tri Cahyo Septianto MKep SpKMB mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan pencegahan stroke secara mandiri, khususnya kelompok yang memiliki faktor risiko hipertensi.
Baca Juga: Usulan Pembaruan Data Cek Bansos, Ini yang Perlu Diperhatikan
“Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko stroke yang harus dikendalikan. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membekali penderita hipertensi dan kader dengan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pendekatan 3O+1D dan CERDIK,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga dikenalkan dengan manajemen hipertensi secara mandiri melalui metode nonfarmakologis sebagai pendamping terapi obat. Di antaranya melalui senam relaksasi napas dalam kogerta dan effleurage back massage atau pijat punggung.
Tri Cahyo mengatakan kombinasi senam kogerta dan pijat punggung dinilai dapat membantu merelaksasi pembuluh darah sehingga tekanan darah penderita hipertensi dapat lebih stabil.
Baca Juga: Pembaruan Data Desil Kemensos Bisa Diajukan, Ini Syarat dan Tahapannya
Menurutnya, pengendalian hipertensi penting dilakukan karena kondisi tersebut kerap tidak disadari masyarakat. Hipertensi bahkan dikenal sebagai silent killer karena dapat muncul tanpa gejala awal yang jelas.
“Lewat pelatihan ini, kami berharap masyarakat bisa mengenali faktor risiko, mampu mempraktikkan pencegahan mandiri, serta tidak terlambat mencari pertolongan medis apabila menemukan indikasi kegawatdaruratan stroke,” tuturnya.
Pendekatan 3O+1D dan CERDIK digunakan sebagai media edukasi agar masyarakat lebih mudah memahami perilaku pencegahan stroke. Peserta diarahkan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan, memantau kondisi kesehatan secara berkala, menerapkan pola hidup sehat, serta mengenali tanda-tanda stroke dan pentingnya segera mendapatkan pertolongan medis.
Gagasan edukasi tersebut mendapat dukungan Forum Blitar Kota Sehat. Ketua Forum Blitar Kota Sehat Sri Winarni mengatakan, kecenderungan kasus stroke yang mulai ditemukan pada kelompok usia produktif perlu menjadi perhatian.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlepas dari pola hidup kurang sehat, seperti minimnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak seimbang.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan stroke perlu dilakukan sejak dini, tidak hanya pada kelompok lanjut usia, tetapi juga pada masyarakat usia produktif,” beber dosen Program Studi Promosi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Malang tersebut.
Baca Juga: Pembaruan Data Desil Kemensos Bisa Diajukan, Ini Syarat dan Tahapannya
Koordinator ILP Kelurahan Kepanjenkidul Sri Setyowati menambahkan, peserta Pengabmas berasal dari perwakilan kader dan warga di dua RW yang dinilai rawan hipertensi.
Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Sebagian besar merupakan kader dan warga lanjut usia yang terindikasi memiliki hipertensi.
“Ilmu yang didapat kader hari ini akan disebarluaskan kembali kepada masyarakat luas saat pembukaan layanan Posyandu di Langkah Ke-5,” katanya.
Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Politeknik Agraria STPN Kampus Paling Lengkap: Belajar dari Cacing hingga Politik
Lurah Kepanjenkidul Eko Wibowo turut menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi praktis mengenai pencegahan stroke sangat bermanfaat karena langsung menyasar warga dan kader yang memiliki risiko hipertensi.
Dia bahkan menyebut pernah ada perangkat kelurahan yang mengalami serangan stroke secara mendadak akibat tekanan darah tinggi yang tidak terdeteksi.
“Bulan lalu ada perangkat kelurahan kami yang kena serangan stroke mendadak sampai tidak bisa ngantor. Dampaknya sangat nyata,” ujarnya.
Eko berharap edukasi pencegahan stroke melalui 3O+1D dan CERDIK dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengendalikan tekanan darah. Kolaborasi perguruan tinggi, kader, Posyandu ILP, kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya promotif dan preventif sehingga risiko stroke dapat ditekan sejak dini. (jar/c1/sub)
Editor : Azahra Meilisani Salma