JAKARTA - Hari baik pindah rumah menurut Islam tidak ditentukan oleh hari atau bulan yang dianggap membawa kesialan. Buya Yahya, Ustaz Khalid Basalamah, dan Habib Husein Jafar menjelaskan bahwa umat Islam tidak perlu takut memilih waktu pindahan karena mitos tertentu. Hal yang perlu diperhatikan justru niat, kelancaran ibadah, kenyamanan orang lain, serta upaya menjadikan rumah baru sebagai tempat yang dipenuhi kebaikan.
Di tengah masyarakat, kepercayaan mengenai hari baik dan hari buruk masih sering menjadi pertimbangan sebelum pindah rumah. Sebagian orang menghindari hari Selasa karena dianggap membawa kesialan. Ada pula yang merasa khawatir jika harus menempati rumah baru pada bulan Muharram.
Namun, keyakinan tersebut perlu ditinjau berdasarkan ajaran Islam. Memilih waktu pindahan sebaiknya tidak didasarkan pada ketakutan terhadap tanggal tertentu, melainkan pada pertimbangan yang masuk akal dan tidak bertentangan dengan syariat.
Tiga ulama dalam video kajian tersebut memberikan penjelasan mengenai cara menyikapi tradisi hari baik pindah rumah, mulai dari amalan ketika memasuki hunian baru hingga pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah.
Baca Juga: Kualifikasi Piala Dunia 2030: Timnas Indonesia Berpeluang Dapat Tiket Langsung ke Putaran Kedua
Buya Yahya Jelaskan Waktu Pindahan yang Dianjurkan
Buya Yahya menegaskan bahwa tidak ada ketentuan khusus yang mengharuskan seseorang pindah rumah pada hari tertentu. Menurut penjelasannya, waktu pindahan dapat dipilih sesuai kebutuhan selama tidak mengganggu kewajiban kepada Allah dan tidak menyulitkan orang lain.
Salah satu hal yang disampaikan ialah membaca Surah Al-Baqarah ketika memasuki rumah baru. Amalan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan suasana religius di dalam hunian.
Selain itu, Buya Yahya mengingatkan pentingnya menjadikan rumah sebagai tempat untuk melakukan kebaikan. Penghuni sebaiknya tidak merencanakan perbuatan maksiat atau menjadikan rumah sebagai tempat melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama.
Persiapan pindahan juga perlu mempertimbangkan waktu pelaksanaan. Jangan sampai kesibukan mengangkut barang membuat seseorang meninggalkan salat atau mengabaikan kewajiban lainnya.
Hal yang sama berlaku terhadap hubungan sosial. Aktivitas pindahan sebaiknya diatur agar tidak mengganggu tetangga maupun menyulitkan orang lain. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, seseorang dapat menentukan waktu yang paling sesuai tanpa harus terpaku pada kepercayaan mengenai hari tertentu.
Ustaz Khalid Basalamah Luruskan Mitos Hari Selasa
Ustaz Khalid Basalamah turut menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal hari sial yang secara otomatis mendatangkan keburukan kepada seseorang. Ia membedakan antara waktu yang memiliki keutamaan dalam ajaran agama dan anggapan bahwa hari tertentu membawa kesialan.
Dalam Islam, terdapat waktu yang mempunyai keistimewaan untuk beribadah. Hari Jumat, misalnya, memiliki kedudukan khusus. Begitu pula sepertiga malam yang dikenal sebagai waktu istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Namun, adanya waktu yang utama tidak berarti waktu lainnya merupakan waktu yang buruk. Oleh sebab itu, anggapan bahwa hari Selasa membawa kesialan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membatalkan atau menunda pindahan.
Pandangan serupa berlaku terhadap bulan Muharram. Bulan tersebut termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena itu, masyarakat tidak perlu menganggap pindah rumah pada bulan Muharram sebagai sesuatu yang otomatis mendatangkan keburukan.
Pemahaman agama yang benar menjadi penting agar seseorang tidak mencampuradukkan ajaran Islam dengan tradisi yang tidak mempunyai dasar syariat. Selama proses pindahan dilakukan dengan cara yang dibenarkan, tidak ada kewajiban untuk memilih tanggal khusus.
Baca Juga: Kualifikasi Piala Dunia 2030: Timnas Indonesia Berpeluang Dapat Tiket Langsung ke Putaran Kedua
Habib Husein Jafar Ingatkan Bahaya Prasangka Buruk
Habib Husein Jafar menyoroti pengaruh keyakinan terhadap hari sial dari sisi psikologis dan spiritual. Menurut penjelasannya, seseorang yang sudah meyakini suatu hari akan membawa kesialan berpotensi menjadi lebih mudah merasa khawatir ketika menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan.
Ia menghubungkan hal tersebut dengan hadis qudsi mengenai prasangka seorang hamba kepada Allah. Ketika seseorang terus-menerus menduga bahwa suatu waktu akan mendatangkan keburukan, dugaan itu dapat memengaruhi cara dirinya menafsirkan berbagai peristiwa.
Kejadian biasa yang sebenarnya tidak berhubungan dengan waktu pindahan bisa dianggap sebagai pertanda buruk. Akibatnya, seseorang menjadi waswas dan sulit menjalani proses pindahan dengan tenang.
Karena itu, umat Islam perlu membangun sikap husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah. Sikap ini perlu disertai tawakal, usaha, dan pertimbangan yang rasional dalam menghadapi perubahan kehidupan.
Cara Menjadikan Rumah Baru Lebih Berkah
Berdasarkan penjelasan ketiga ulama tersebut, hari baik pindah rumah menurut Islam tidak bergantung pada mitos mengenai hari Selasa, tanggal tertentu, maupun bulan yang dianggap membawa kesialan.
Masyarakat dapat menentukan waktu pindahan berdasarkan kesiapan tenaga, ketersediaan bantuan, kondisi lingkungan, serta kemampuan menjaga kewajiban ibadah. Persiapan yang baik juga membantu proses pemindahan barang berjalan lebih tertib dan nyaman.
Ketika sudah menempati rumah baru, penghuni dapat membiasakan membaca Al-Qur'an, menjaga salat, serta membangun lingkungan keluarga yang baik. Hubungan harmonis dengan tetangga juga menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan di tempat tinggal yang baru.
Dengan demikian, pindah rumah bukan sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Momen tersebut dapat menjadi awal untuk memperbaiki kebiasaan, meningkatkan kualitas ibadah, dan membangun kehidupan yang lebih baik tanpa dibayangi ketakutan terhadap mitos hari sial.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Dakwah Conect