Hari Baik Menikah Menurut Islam Tak Harus Cari Weton Ini Penjelasannya

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:59 WIB
Hari baik menikah menurut Islam dibahas tanpa mengandalkan weton atau dukun. Pernikahan lebih ditekankan pada niat dan syariat. (PINTEREST)
Hari baik menikah menurut Islam dibahas tanpa mengandalkan weton atau dukun. Pernikahan lebih ditekankan pada niat dan syariat. (PINTEREST)

JAKARTA - Hari baik menikah menurut Islam dalam pembahasan ini tidak dikaitkan dengan hitungan weton, primbon, maupun bantuan dukun. Pernikahan lebih ditekankan sebagai ibadah yang harus dilandasi niat baik dan dilaksanakan berdasarkan tuntunan syariat.

Kebiasaan menentukan tanggal pernikahan berdasarkan perhitungan tertentu masih ditemukan di tengah masyarakat. Sebagian orang mencari hari yang dianggap paling cocok dengan menghitung weton atau meminta pertimbangan dari pihak tertentu yang dianggap mengetahui perkara tersebut.

Namun, pembahasan dalam video tersebut mengingatkan agar persoalan pernikahan tidak disandarkan pada keyakinan semacam itu. Menurut materi yang disampaikan, pasangan seharusnya lebih memperhatikan kesesuaian pernikahan dengan syariat daripada mengejar tanggal yang dianggap membawa keberuntungan.

Pernikahan sendiri disebut sebagai salah satu sarana untuk menjaga diri dari perbuatan zina. Karena itu, niat menjadi bagian penting sebelum pasangan membangun rumah tangga. Pernikahan tidak semestinya hanya dipandang sebagai acara seremonial, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Bukan Ditentukan Weton atau Jasa Dukun

Weton bukan penentu utama pernikahan

Pembahasan mengenai hari baik menikah menurut Islam kemudian dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat menggunakan hitungan weton. Dalam transkrip, praktik tersebut disebut sebagai salah satu persoalan yang perlu diperhatikan ketika perhitungannya kemudian diyakini menentukan baik atau buruknya kehidupan pasangan.

Begitu pula dengan kebiasaan mendatangi dukun untuk meminta petunjuk mengenai tanggal pernikahan. Sikap tersebut dipersoalkan karena dapat membuat seseorang menggantungkan keputusan penting kepada sesuatu di luar dasar syariat.

Pesan yang disampaikan adalah agar masyarakat kembali memperkuat pemahaman agama. Dalam menentukan waktu pernikahan, pasangan tetap dapat mempertimbangkan berbagai kebutuhan yang bersifat praktis, tetapi tidak menjadikan ramalan sebagai ukuran masa depan rumah tangga.

Salah satu contoh yang dibahas adalah pemilihan waktu yang tidak mengganggu aktivitas pekerjaan. Bagi masyarakat yang bekerja, waktu pernikahan dapat disesuaikan dengan kondisi agar pelaksanaannya tidak menghambat pekerjaan.

Artinya, menentukan waktu berdasarkan pertimbangan teknis berbeda dengan meyakini bahwa tanggal tertentu mempunyai kekuatan khusus untuk menentukan nasib pasangan.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Bukan Ditentukan Weton atau Jasa Dukun

Pernikahan diarahkan pada tujuan ibadah

Pembahasan juga menyoroti pentingnya membangun rumah tangga dengan dasar syariat. Pernikahan disebut perlu diniatkan sebagai jalan untuk menjaga diri dari zina sekaligus menjalankan sunnah Rasul.

Karena itu, pasangan tidak cukup hanya memikirkan kapan acara dilaksanakan. Hal yang tidak kalah penting adalah kesiapan menjalankan kehidupan setelah akad. Prinsip agama perlu menjadi pegangan agar rumah tangga tidak hanya baik dalam pelaksanaan acara, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Transkrip turut mengingatkan mengenai fenomena yang disebut sebagai fantasi kesalehan. Dalam pembahasan tersebut, pengalaman atau keyakinan tertentu yang dianggap menunjukkan kesalehan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan aturan syariat.

Berbagai pengalaman yang berkaitan dengan tokoh agama, wali, atau sosok yang dianggap memiliki keistimewaan juga disebut perlu ditempatkan secara hati-hati. Dasar agama tetap menjadi ukuran utama.

Pesan serupa kemudian diarahkan pada kehidupan umat secara umum. Masyarakat diminta memperkuat ibadah yang nyata, seperti menjalankan salat dengan benar, menjaga wudu, menutup aurat, serta melaksanakan ibadah sesuai ketentuannya.

Dalam konteks pernikahan, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan tidak menjadikan weton atau ramalan sebagai penentu nasib. Pasangan dapat memilih waktu yang sesuai dengan keadaan keluarga, pekerjaan, dan kesiapan mereka.

Dengan demikian, hari baik menikah menurut Islam dalam pembahasan tersebut lebih ditekankan pada pelaksanaan pernikahan yang sesuai syariat daripada pencarian tanggal yang dianggap memiliki kekuatan tertentu. Pernikahan diharapkan menjadi jalan membangun keluarga sekaligus menjaga diri dari perbuatan yang dilarang agama.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Ibnu Hasan Chanel
Hari Baik Menikah Menurut Islam Syariat Islam weton primbon pernikahan