BOGOR - Nama Mama Falak Pagentongan lekat dengan sejarah keulamaan, ilmu falak, hingga kisah perjuangan di tengah pergolakan kemerdekaan Indonesia. Sosok bernama lengkap K. H. Tubagus Muhammad Falaq Abbas itu disebut menjadi tempat Bung Karno mencari ketenangan batin dan nasihat spiritual ketika situasi revolusi sedang genting.
Mama Falak lahir di Saniwara, Desa Sempur, Paledang, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 1842 berdasarkan literatur manakib yang disebut diakui pihak keluarga. Ia merupakan putra K. H. Tubagus Abbas dan Ratu Quraisin. Gelar Tubagus yang melekat pada namanya disebut sebagai penanda garis keturunan Kesultanan Banten.
Dalam riwayat yang disampaikan, nasab Mama Falak bersambung kepada Sultan Ageng Tirtayasa hingga Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Garis keturunan tersebut kemudian disebut bersambung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayidina Husein bin Ali.
Sejak kecil, Tubagus Muhammad mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya. Ia mempelajari akidah, Al-Qur'an, nahwu, dan saraf. Setelah itu, ia melakukan perjalanan dari satu pesantren ke pesantren lain di wilayah Banten dan Cirebon sebelum melanjutkan pendidikan ke Makkah.
Sekitar usia 15 tahun atau pada 1857, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Di Tanah Suci, ia bergabung dengan komunitas ulama Jawi dan disebut berguru kepada sejumlah ulama besar, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfuz Termas, Sayid Zaini Dahlan, serta Syekh Abdul Karim Al-Bantani.
Baca Juga: Soekarno dan Jalan Menuju Demokrasi Terpimpin, Saat Kekuasaan Presiden Makin Besar
Di Makkah, kemampuan Tubagus Muhammad dalam ilmu falak berkembang pesat. Ilmu tersebut berkaitan dengan perhitungan benda langit untuk menentukan arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, Ramadan, Syawal, hingga gerhana.
Karena kemampuannya dalam bidang astronomi Islam, ia kemudian mendapat gelar Falaq. Dari sinilah nama K. H. Tubagus Muhammad Falaq semakin dikenal.
Selama berada di Makkah, Mama Falak juga disebut berinteraksi dengan sejumlah ulama Nusantara, seperti K. H. Hasyim Asy'ari, K. H. Ahmad Dahlan, dan K. H. Wahab Hasbullah. Pertemuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ilmu agama, tetapi juga pembahasan mengenai kondisi Nusantara yang berada di bawah penjajahan Belanda.
Setelah puluhan tahun menimba ilmu, Mama Falak kembali ke Indonesia. Ia sempat berdakwah di Pandeglang sebelum akhirnya memilih Pagentongan, Bogor, sebagai tempat bermukim. Pada 1901, ia mulai merintis majelis taklim yang kemudian berkembang menjadi pesantren Al-Falaq.
Masyarakat setempat mengenalnya sebagai sosok tawadu. Ia tidak segan bergaul dengan masyarakat dan turun langsung ke tengah kehidupan warga. Keahliannya dalam ilmu falak kemudian membuat Pagentongan dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran ilmu tersebut.
Mama Falak juga disebut mengajarkan ilmu hisab dan falak selain fikih, tauhid, serta tasawuf. Santri yang datang bukan hanya berasal dari Jawa Barat, tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara, bahkan Malaysia dan Thailand.
Dalam kisah perjuangan, Pesantren Al-Falaq disebut menjadi tempat para pejuang dan laskar santri mencari penguatan mental. Para pemuda yang hendak menghadapi tentara Belanda atau NICA dikisahkan datang ke Pagentongan untuk mengikuti doa bersama. Bambu runcing yang digunakan para pejuang juga disebut didoakan oleh Mama Falak.
Hubungannya dengan Bung Karno menjadi salah satu kisah yang paling banyak diceritakan. Pada masa revolusi 1945-1949, ketika situasi Jakarta tidak aman, Bung Karno disebut kerap berkunjung ke Bogor. Dalam beberapa kunjungan, sang proklamator dikisahkan menyempatkan diri sowan ke Pagentongan untuk menemui Mama Falak.
Menurut riwayat tersebut, Bung Karno datang bukan untuk membicarakan strategi militer, melainkan mencari ketenangan batin, nasihat spiritual, dan doa. Mama Falak juga disebut memberikan doa dan wirid kepada Bung Karno untuk keselamatan diri serta bangsa.
Baca Juga: Soekarno dan Jalan Menuju Demokrasi Terpimpin, Saat Kekuasaan Presiden Makin Besar
Kisah tentang karamah Mama Falak pun berkembang di tengah masyarakat. Salah satu cerita menyebut bom yang dijatuhkan pesawat Belanda ke arah kompleks pesantren tidak meledak. Kisah lain menyebut pasukan Belanda beberapa kali mengepung kediamannya, tetapi tidak berhasil menemukan Mama Falak.
Berbagai kisah tersebut hidup dalam tradisi lisan masyarakat dan kalangan santri. Di luar kisah karamahnya, warisan Mama Falak yang paling menonjol adalah pendidikan keislaman dan pengembangan ilmu falak di Pagentongan.
Sosoknya dikenang sebagai ulama yang memadukan keilmuan agama, astronomi Islam, spiritualitas, dan semangat kebangsaan. Pagentongan pun menjadi bagian dari perjalanan panjang tradisi pesantren dan perjuangan masyarakat di tengah pergolakan sejarah Indonesia.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Riyo Fulana