JAKARTA - Cara menghitung desil data kelompok dapat dilakukan dengan menentukan jumlah frekuensi, membuat frekuensi kumulatif, mencari letak desil, lalu menghitung nilai desil menggunakan rumus yang sesuai. Langkah tersebut diterapkan untuk mengetahui posisi data yang membagi kelompok menjadi sepuluh bagian.
Dalam materi yang dibahas, terdapat tiga contoh perhitungan desil, yaitu D2, D5, dan D9. Ketiga contoh tersebut menggunakan tabel yang terdiri atas nilai dan frekuensi. Total frekuensi dari tabel yang digunakan adalah 60.
Tahap awal menjadi bagian penting karena hasil frekuensi kumulatif akan menentukan kelas tempat desil berada. Setelah kelas diketahui, barulah perhitungan nilai desil dilakukan.
Baca Juga: Brigadir Novitha 'Kecanduan' Lari, Sembari Tunggu Suami Pulang dari Papua
Awali dengan Menghitung Frekuensi Kumulatif
Frekuensi pada tabel terdiri atas enam kelompok, masing-masing memiliki frekuensi 9, 11, 17, 12, 8, dan 3. Seluruh frekuensi tersebut dijumlahkan sehingga menghasilkan N atau jumlah frekuensi sebesar 60.
Berikutnya, frekuensi kumulatif dibuat dengan menjumlahkan frekuensi secara bertahap. Frekuensi pertama adalah 9. Kemudian 9 ditambah 11 menghasilkan 20.
Perhitungan diteruskan dengan menjumlahkan 20 dan 17 sehingga menjadi 37. Setelah itu, 37 ditambah 12 menghasilkan 49. Angka tersebut ditambah 8 menjadi 57, lalu ditambah 3 sehingga frekuensi kumulatif terakhir menjadi 60.
Kolom frekuensi kumulatif inilah yang digunakan untuk mengetahui kelas yang memuat posisi desil.
Contoh Menghitung D2, D5, dan D9
Untuk menentukan letak D2, digunakan perhitungan 2/10 dikalikan jumlah frekuensi. Karena N bernilai 60, hasilnya adalah 12.
Posisi ke-12 belum masuk pada frekuensi kumulatif 9. Namun, posisi tersebut sudah berada dalam frekuensi kumulatif 20. Dengan demikian, D2 berada pada kelas kedua.
Rumus nilai desil kemudian menggunakan tepi bawah kelas desil, posisi desil, frekuensi kumulatif sebelum kelas desil, frekuensi kelas desil, serta panjang kelas.
Pada contoh D2, tepi bawah diperoleh dari 22 dikurangi 0,5 sehingga menjadi 21,5. Frekuensi kumulatif sebelum kelas desil adalah 9, frekuensi kelas desil 11, dan panjang kelas 11.
Perhitungan tersebut menghasilkan nilai D2 sebesar 24,5.
Baca Juga: Brigadir Novitha 'Kecanduan' Lari, Sembari Tunggu Suami Pulang dari Papua
Selanjutnya, D5 dicari dengan cara menentukan letaknya terlebih dahulu. Rumusnya adalah 5/10 dikalikan 60 sehingga menghasilkan 30.
Posisi ke-30 berada pada kelas dengan frekuensi kumulatif 37. Frekuensi kumulatif sebelumnya adalah 20. Tepi bawah kelas tersebut sebesar 32,5, sedangkan frekuensi kelas desil 17 dan panjang kelas 11.
Setelah semua angka dimasukkan ke dalam rumus, nilai D5 diperoleh sekitar 38,97.
Untuk D9, letaknya dihitung dengan 9/10 dikalikan 60. Hasilnya adalah 54. Posisi tersebut berada pada kelas dengan frekuensi kumulatif 57 karena frekuensi kumulatif sebelumnya hanya mencapai 49.
Tepi bawah kelas D9 adalah 54,5. Frekuensi kumulatif sebelum kelas desil sebesar 49, frekuensi kelas desil 8, dan panjang kelas 11. Berdasarkan perhitungan dalam materi, nilai D9 diperoleh sekitar 61,38.
Dari tiga contoh tersebut, terlihat bahwa proses menghitung desil data kelompok memiliki tahapan yang konsisten. Nomor desil menentukan posisi yang harus dicari, kemudian posisi tersebut dicocokkan dengan frekuensi kumulatif untuk menentukan kelas desil.
Setelah kelas ditemukan, unsur lain seperti tepi bawah, frekuensi kumulatif sebelum kelas, frekuensi kelas, dan panjang kelas dimasukkan ke rumus. Ketelitian pada setiap tahap diperlukan agar hasil akhir perhitungan tidak keliru.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Matematika Hebat