SLEMAN - Budidaya belut di kolam terpal dinilai menjadi peluang usaha yang masih menjanjikan. Seorang petani belut asal Dusun Sabrang Wetan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membagikan pengalaman sekaligus teknik budidaya yang diterapkannya, mulai dari persiapan media, pemilihan bahan, perawatan hingga strategi panen agar menghasilkan keuntungan maksimal.
Pelaku budidaya tersebut adalah Wardi, yang selama ini dikenal aktif mengembangkan usaha budidaya belut sekaligus membuka rumah makan khusus olahan belut. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa budidaya belut dapat dimulai dengan modal yang relatif terjangkau tanpa harus menggunakan kolam permanen.
Menurutnya, kolam terpal menjadi pilihan paling tepat bagi pemula karena biaya pembuatannya lebih ringan dibandingkan kolam beton maupun fiber. Setelah teknik budidaya dikuasai dan hasilnya terbukti, pelaku usaha baru dapat mengembangkan skala bisnis yang lebih besar.
Kolam Terpal Dinilai Paling Efisien untuk Pemula
Wardi menjelaskan, budidaya belut tidak harus dimulai menggunakan fasilitas yang mahal. Kolam sederhana berbahan terpal sudah cukup untuk memulai proses pembesaran.
Baca Juga: Pelaku Usaha Diminta Tinggalkan Elpiji 3 Kilogram, Disperindag Kota Blitar Perketat Pengawasan
Ia mencontohkan kolam berukuran 1 x 2 meter dengan tinggi sekitar 50 sentimeter yang digunakan sebagai media budidaya.
Menurutnya, penggunaan kolam permanen memang memungkinkan, tetapi membutuhkan biaya jauh lebih besar sehingga kurang cocok bagi masyarakat yang baru belajar.
Komposisi Media Menjadi Kunci Keberhasilan
Dalam proses budidaya, media tanam menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan pemeliharaan belut.
Wardi menggunakan empat bahan utama dengan komposisi tertentu, yakni lumpur sebanyak 50 persen, gedebok pisang 15 persen, kotoran sapi atau kohe 15 persen, serta jerami padi atau damen sekitar 10 persen.
Lumpur berfungsi sebagai tempat hidup belut, sedangkan gedebok menjaga suhu media tetap lembap dan sejuk.
Sementara itu, kotoran sapi dimanfaatkan untuk menghasilkan cacing melalui proses penguraian. Cacing tersebut kemudian menjadi sumber pakan alami bagi belut.
Jerami padi berfungsi membentuk kompos sehingga media tetap gembur dan tidak mudah memadat.
Beberapa Bahan Dapat Diganti
Wardi mengatakan tidak semua bahan harus selalu tersedia. Apabila jerami padi sulit diperoleh, bahan tersebut dapat diganti menggunakan daun-daun kering yang nantinya membusuk dan membentuk kompos.
Namun ia menilai gedebok pisang tetap menjadi bahan yang sulit digantikan karena memiliki fungsi menjaga suhu media tetap dingin dan lembap.
Jika tidak tersedia, lokasi budidaya sebaiknya berada di tempat yang teduh agar kondisi media tetap sesuai kebutuhan belut.
Untuk kotoran hewan, ia tetap merekomendasikan kotoran sapi.
Menurutnya, kotoran kambing memang dapat digunakan sebagai alternatif, tetapi proses penguraiannya jauh lebih lambat sehingga produksi cacing sebagai pakan alami menjadi kurang optimal.
Media Direndam dan Difermentasi
Setelah seluruh bahan dicampur hingga merata, media direndam menggunakan air selama satu minggu.
Ketinggian air minimal sekitar 10 sentimeter dan dapat lebih tinggi apabila diperlukan.
Perendaman dilakukan untuk menghilangkan bakteri yang terdapat pada getah gedebok pisang.
Setelah satu minggu, air dikuras hingga rata dengan permukaan lumpur.
Media kemudian diaduk kembali dan dibiarkan selama satu bulan tanpa dilakukan pengadukan lagi agar proses fermentasi berlangsung sempurna.
Menurut Wardi, media yang terlalu sering diaduk justru sulit mengalami fermentasi secara maksimal.
Tanaman Menjadi Indikator Media Siap
Usai proses fermentasi selesai, media belum langsung digunakan untuk menebar benih.
Wardi terlebih dahulu menanam tanaman air seperti eceng gondok, genjer, kangkung, bahkan padi.
Tanaman tersebut memiliki beberapa fungsi penting.
Selain membantu menciptakan lingkungan yang teduh, tanaman juga menjadi indikator apakah media sudah siap digunakan.
Apabila tanaman tumbuh subur, berarti media telah siap ditebari benih.
Sebaliknya, jika tanaman layu, media masih belum layak digunakan.
Dalam proses fermentasi, ia juga menyarankan penggunaan EM4 khusus untuk tanah atau pertanian apabila diperlukan guna membantu mempercepat pembentukan media.
Kepadatan Tebar Disesuaikan Luas Kolam
Setelah tanaman tumbuh sekitar satu minggu, benih mulai dapat ditebar.
Jumlah benih disesuaikan dengan luas kolam.
Untuk kolam berukuran 1 x 1 meter, kapasitas ideal berkisar antara 3 hingga 5 kilogram benih.
Sementara kolam berukuran 1 x 2 meter dapat diisi dua kali lipat sesuai perhitungan tersebut.
Menurutnya, penyesuaian jumlah benih sangat penting agar pertumbuhan belut berlangsung optimal.
Sistem Drainase Tidak Boleh Diabaikan
Selain media, saluran pembuangan air atau drainase juga menjadi bagian penting dalam budidaya.
Wardi menegaskan bahwa permukaan air tidak boleh menggenangi lumpur.
Air cukup berada sejajar dengan permukaan media.
Menurutnya, belut secara alami keluar masuk dari dalam lumpur untuk memperoleh oksigen.
Aktivitas tersebut membentuk lubang-lubang kecil yang berfungsi menyalurkan oksigen ke dalam media.
Apabila lubang tertutup genangan air, suplai oksigen berkurang sehingga belut mudah lemas bahkan berisiko mati.
Atap Disesuaikan dengan Lokasi
Kebutuhan atap bergantung pada kondisi lingkungan budidaya.
Apabila kolam berada di bawah pepohonan yang rindang, atap tidak lagi diperlukan.
Namun jika kolam berada di area terbuka yang terkena sinar matahari sepanjang hari, pemasangan atap atau paranet sangat dianjurkan.
Selain mengurangi panas, paranet juga dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman rambat.
Wardi mengaku pernah menanam labu siam di atas paranet sehingga memperoleh hasil tambahan dari lahan yang sama.
Media Tidak Perlu Diganti Total
Menurut Wardi, media budidaya tidak harus dibuang setiap selesai panen.
Yang perlu dilakukan hanyalah menambahkan nutrisi baru.
Sekitar satu bulan sebelum panen, ia menyiapkan campuran gedebok, kotoran sapi, dan jerami sebagai nutrisi tambahan.
Campuran tersebut difermentasi selama satu bulan.
Setelah panen selesai, nutrisi baru dimasukkan ke dalam kolam sehingga media kembali siap digunakan.
Penggantian total hanya dilakukan apabila kolam sudah rusak, misalnya terpal sobek atau rangka bambu tidak lagi layak dipakai.
Harga Belut Rawa Lebih Tinggi
Dalam kesempatan itu, Wardi juga menjelaskan jenis belut yang dibudidayakan.
Menurutnya, belut rawa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan belut sawah.
Harga benih belut rawa yang dijualnya mencapai sekitar Rp90.000 per kilogram dengan isi sekitar 100 hingga 120 ekor berukuran panjang 10 sampai 15 sentimeter.
Ia menilai belut sawah kurang cocok dibudidayakan karena telah banyak terpapar pestisida dan pupuk pertanian.
Selain itu, sebagian besar belut sawah merupakan hasil tangkapan liar sehingga kualitasnya berbeda dibandingkan belut rawa.
Panen Wajib Dilakukan Setelah Empat Bulan
Wardi mengingatkan bahwa panen sebaiknya dilakukan ketika umur pemeliharaan mencapai empat bulan.
Pada usia tersebut ukuran belut mulai tidak seragam sehingga muncul sifat kanibal.
Belut yang lebih besar dapat memangsa belut berukuran kecil apabila tidak segera dipisahkan.
Karena itu, hasil panen harus disortir berdasarkan ukuran.
Belut besar dapat langsung dipasarkan, sedangkan belut kecil dapat dipelihara kembali hingga mencapai ukuran konsumsi.
Semua Ukuran Belut Memiliki Pasar
Menurut Wardi, seluruh ukuran belut memiliki nilai jual.
Belut kecil biasanya diolah menjadi keripik.
Ukuran sedang banyak digunakan sebagai bahan sambal belut atau belut geprek.
Sementara belut berukuran besar menjadi bahan baku berbagai menu seperti rica-rica belut, mangut belut, tongseng belut hingga belut asap.
Karena itu, ia menyarankan petani tidak menjual seluruh isi kolam sekaligus tanpa melakukan penyortiran.
Ramai Pengunjung hingga Kesulitan Melayani Pesan
Di akhir penjelasannya, Wardi meminta maaf kepada masyarakat yang belum memperoleh balasan atas pesan maupun pemesanan.
Ia mengaku aktivitas budidaya dan rumah makan membuat dirinya menerima banyak kunjungan setiap hari.
Menurutnya, jumlah pesan yang masuk sangat banyak sehingga beberapa kali mengalami kehilangan arsip pemesanan.
Karena itu, ia meminta pelanggan terus melakukan konfirmasi apabila pesanan belum dikirim.
Wardi juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan dirinya.
Ia meminta calon pembeli memastikan nomor yang dihubungi sesuai dengan nomor resmi yang dibagikan, yaitu 0821-3806-4682 dan 0822-3164-1479.
Ia juga menyarankan transaksi dilakukan setelah memastikan identitas melalui video call dan memperoleh nota resmi dari pihaknya.
Sementara untuk pengiriman ke luar Pulau Jawa, Wardi mengaku hingga kini belum dapat melayani karena masih terkendala sistem transportasi dan distribusi.
Ia mengajak masyarakat yang ingin belajar budidaya maupun menikmati kuliner belut untuk datang langsung ke lokasi usahanya di Dusun Sabrang Wetan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Editor : Maylanni Diana FitriSumber : yt: OASIS