Oversharing di Media Sosial, Anak Muda Perlu Pahami Batasan Privasi

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:00 WIB
Anak muda perlu bijak membagikan persoalan pribadi di media sosial.
Anak muda perlu bijak membagikan persoalan pribadi di media sosial.

BLITAR KAWENTAR - Membagikan persoalan pribadi di media sosial kini semakin akrab dengan keseharian anak muda. Mulai dari masalah keluarga, perkuliahan, hingga perasaan, berbagai hal kerap diungkapkan melalui unggahan maupun fitur cerita. Namun, kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampaknya dapat mengarah pada oversharing.

Bagi sebagian anak muda, bercerita menjadi salah satu cara untuk mengurangi beban pikiran. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya dapat memberikan rasa lega, terutama ketika mendapat respons yang menenangkan.

Hal itu dirasakan Zulfah, seorang mahasiswa yang mengaku membutuhkan kedekatan dan kepercayaan sebelum membuka diri kepada orang lain. Baginya, curhat kepada teman dekat bisa membantu meringankan pikiran ketika sedang menghadapi persoalan.

Baca Juga: Berburu Uang Baru di Kas Keliling BI Kediri, untuk THR Lebaran hingga Kembalian Toko

Di media sosial, Zulfah juga memilih membatasi informasi yang dibagikan. Dia memanfaatkan fitur story dengan pengaturan close friends agar unggahannya hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu.

Meski bercerita dapat memberikan kelegaan, Zulfah menyadari bahwa respons orang lain tidak selalu sesuai dengan harapan. Ketika seseorang mengharapkan tanggapan tertentu, perbedaan respons justru bisa menimbulkan kekecewaan.

Seiring waktu, dia belajar memahami bahwa setiap orang memiliki kesibukan dan persoalan masing-masing. Karena itu, kepedulian seseorang tidak bisa sepenuhnya diukur dari seberapa cepat atau bagaimana mereka merespons sebuah cerita.

Baca Juga: Limbah Kotoran Sapi Diduga Cemari Sungai dan Sumur Warga, Protes terhadap PT Greenfields 2 Kembali M

Pengalaman tersebut membuatnya lebih memahami pentingnya mengelola harapan ketika berbagi persoalan pribadi. Tidak semua orang selalu memiliki waktu atau kemampuan untuk memberikan tanggapan seperti yang diinginkan.

Zulfah juga pernah mengalami penyesalan setelah membagikan sesuatu ketika sedang terbawa emosi. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa keputusan mengunggah sesuatu sebaiknya tidak dilakukan secara terburu-buru.

Menurutnya, oversharing dapat memicu kesalahpahaman dan membuat orang lain merasa tidak nyaman. Selain itu, informasi pribadi yang dibagikan kepada orang yang tidak tepat berpotensi tersebar lebih luas dari yang diperkirakan.

Zulfah menilai bahwa mengekspresikan diri melalui media sosial bukanlah hal yang buruk. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk bercerita dan didengarkan. Namun, kebebasan berekspresi tetap perlu disertai kesadaran terhadap batasan privasi.

Memilih orang yang dipercaya untuk berbagi cerita menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, mempertimbangkan isi unggahan sebelum membagikannya juga dapat membantu menghindari penyesalan di kemudian hari.

Baca Juga: Antrean Cuci Darah di RSUD Mardi Waluyo Tembus 272 Pasien, Ternyata Mesin Aktif Hanya 29 Unit

Pengguna media sosial perlu memahami bahwa tidak semua persoalan harus diketahui publik. Sebagian cerita mungkin lebih nyaman disampaikan secara pribadi kepada teman dekat atau orang yang benar-benar dipercaya.

“Tidak ada salahnya bercerita karena setiap orang butuh didengarkan. Namun, kita harus tahu batasan dan tidak harus membagikan semua hal. Pilihlah orang yang bisa dipercaya, pikirkan sebelum mengunggah, dan ingat tidak semua masalah harus diketahui publik. Kita tetap bisa menjadi diri sendiri tanpa mengorbankan privasi,” pesannya.

Pengalaman Zulfah menunjukkan bahwa bercerita dan menjaga privasi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Anak muda tetap dapat mengekspresikan perasaan serta mencari dukungan dari orang lain tanpa harus mengungkapkan seluruh persoalan pribadi di ruang publik. (mg3/c1/sub)

Editor : Azahra Meilisani Salma
Oversharing privasi digital media sosial anak muda kesehatan mental