MALANG - Berwisata ke Tumpak Sewu tidak selalu harus menggunakan kendaraan pribadi. Tumpak Sewu dari Malang ternyata bisa dijangkau dengan transportasi umum sehingga menjadi pilihan menarik bagi backpacker yang ingin liburan dengan anggaran lebih hemat.
Tumpak Sewu berada di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, tepat di wilayah perbatasan dengan Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Air terjun ini dikenal memiliki panorama spektakuler dengan aliran air yang melebar di sepanjang tebing.
Dari Kota Malang, jarak menuju kawasan Tumpak Sewu sekitar 65-70 kilometer. Jika menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan bisa memilih sepeda motor maupun mobil. Namun, bagi yang tidak membawa kendaraan, tersedia bus jurusan Malang-Lumajang dari kawasan Pasar Gadang.
Baca Juga: Samsung Terbaru 2026 Punya Banyak Pilihan, Ini Rekomendasi Sesuai Kebutuhan
Naik Bus dari Pasar Gadang
Perjalanan backpacker menuju Tumpak Sewu dimulai sejak pagi dari Pasar Gadang. Wisatawan bisa mencari bus jurusan Malang-Lumajang yang melintas menuju kawasan Pronojiwo.
Dalam pengalaman perjalanan tersebut, tarif bus yang dibayarkan sekitar Rp40 ribu. Perjalanan berlangsung santai dengan waktu tempuh lebih dari dua jam.
Wisatawan kemudian turun di kawasan pintu masuk Tumpak Sewu. Dari titik turun bus, perjalanan dilanjutkan berjalan kaki menuju loket wisata.
Pilihan transportasi ini menjadi solusi bagi wisatawan yang ingin menikmati Tumpak Sewu tanpa harus mengeluarkan biaya rental kendaraan atau mengikuti paket open trip.
Tiket Masuk dan Fasilitas Wisata
Sesampainya di lokasi, wisatawan harus membeli tiket masuk. Harga tiket yang disebut dalam perjalanan tersebut sebesar Rp20 ribu per orang. Tarif tersebut berlaku sama pada hari biasa maupun akhir pekan.
Di sekitar loket tersedia beberapa fasilitas yang cukup membantu wisatawan. Ada toilet, warung, tempat penitipan barang, serta penyewaan alas kaki.
Penitipan barang dikenakan tarif sekitar Rp5 ribu. Sementara itu, wisatawan yang membutuhkan alas kaki untuk menghadapi trek dapat menyewa sandal atau sepatu dengan harga sekitar Rp20 ribu.
Bagi backpacker yang membawa barang cukup banyak, penitipan barang bisa menjadi pilihan agar perjalanan menuju air terjun lebih nyaman.
Trekking Menurun di Sisi Tebing
Setelah melewati loket, wisatawan harus berjalan menuju area panorama Tumpak Sewu. Jaraknya sekitar 350 meter, tetapi medan yang dilalui cukup menantang karena didominasi turunan dan tangga.
Sejumlah bagian jalur berada tepat di sisi tebing. Jalurnya juga cukup sempit dan hanya bisa dilalui satu orang pada beberapa titik. Wisatawan harus berhati-hati ketika berpapasan dengan pengunjung lain.
Kondisi trek semakin menantang ketika terdapat genangan atau aliran air. Meski demikian, suasana alam yang sejuk membuat perjalanan terasa menyenangkan.
Semakin turun, panorama yang terlihat semakin menarik. Tebing hijau dan pepohonan membuat kawasan tersebut memiliki nuansa seperti hutan dalam film petualangan.
Ketika mendekati lokasi air terjun, hempasan air Tumpak Sewu terasa sangat kuat. Wisatawan yang berada di area tersebut bisa basah seperti terkena hujan.
Karena itu, jas hujan sangat disarankan bagi pengunjung yang ingin mengambil foto atau video dari dekat.
Baca Juga: Samsung Terbaru Pertengahan 2026, Ini 9 Pilihan Sesuai Kebutuhan
Backpacker Bisa Menginap di Pronojiwo
Perjalanan Tumpak Sewu dari Malang sebenarnya bisa dilakukan pulang-pergi dalam satu hari. Namun, wisatawan yang ingin mengeksplorasi destinasi lain dapat memilih menginap di sekitar Pronojiwo.
Dalam pengalaman tersebut, penginapan yang dipilih adalah Harmony Guest House. Tarifnya sekitar Rp250 ribu per malam dengan fasilitas kamar, televisi, kamar mandi, dan kipas.
Dengan menginap, wisatawan memiliki waktu lebih banyak untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi lain. Salah satu tujuan berikutnya yang direncanakan adalah Air Terjun Kapas Biru.
Pengalaman ini membuktikan bahwa backpacker dari Malang tetap bisa menikmati Tumpak Sewu meski tanpa kendaraan pribadi. Kuncinya adalah mengetahui rute bus, menyiapkan fisik untuk trekking, serta membawa perlengkapan yang sesuai dengan kondisi medan.
Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : VLOG ADIE