Motor Listrik Disebut Bisa Hemat hingga 70 Persen, Benarkah Warga Mulai Beralih?

Cecilia Dzakira Pasha • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:21 WIB
Motor Listrik Disebut Bisa Hemat hingga 70 Persen, Benarkah Warga Mulai Beralih?
Motor Listrik Disebut Bisa Hemat hingga 70 Persen, Benarkah Warga Mulai Beralih?

JAKARTA - Motor listrik semakin mendapat perhatian di tengah upaya pemerintah mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Selain faktor emisi, biaya operasional yang lebih rendah menjadi salah satu alasan kendaraan listrik mulai dilirik masyarakat.

Penjualan motor listrik nasional pada 2025 tercatat telah menembus lebih dari 59.000 unit. Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pasar kendaraan roda dua listrik mulai berkembang, meski sebagian masyarakat masih belum sepenuhnya yakin untuk meninggalkan motor berbahan bakar bensin.

Pemerintah pun terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional melalui peluncuran Ekosistem Motor Listrik Nasional atau Molinas. Kehadiran ekosistem tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mempercepat pertumbuhan industri motor listrik di Indonesia.

Baca Juga: Diduga Depresi, Pria 55 Tahun Tewas Tertabrak KA Majapahit di Garum Blitar

Salah satu alasan utama masyarakat mempertimbangkan motor listrik adalah efisiensi biaya. Kendaraan listrik tidak membutuhkan bensin untuk beroperasi sehingga biaya mobilitas harian dinilai lebih ringan.

Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian ekosistem motor listrik nasional menyampaikan bahwa penggunaan motor listrik dibandingkan motor bensin dapat memberikan penghematan yang signifikan.

Penghematan biaya mobilitas tersebut disebut minimal mencapai 50 persen. Bahkan, dalam kondisi tertentu, efisiensinya dapat mencapai 70 persen.

Baca Juga: Bonsai Termahal di Dunia, Pinus Berusia 1.000 Tahun Terjual Rp18 Miliar

Potensi penghematan itu menjadi daya tarik bagi masyarakat yang menggunakan sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari. Terlebih bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi dan harus mengeluarkan biaya bahan bakar secara rutin.

Selain biaya, sejumlah warga juga menilai motor listrik memiliki kelebihan lain. Kendaraan ini dianggap lebih praktis karena pengguna tidak perlu mengantre di SPBU untuk membeli bensin. Motor listrik juga dinilai lebih minim polusi dan debu.

Namun, keunggulan tersebut belum otomatis membuat seluruh masyarakat tertarik berpindah kendaraan.

Di lapangan, masih terdapat masyarakat yang lebih memilih motor konvensional. Ketergantungan terhadap bensin menjadi salah satu alasan utama.

Sebagian masyarakat menilai kondisi ekonomi belum memungkinkan semua orang beralih ke kendaraan listrik. Pendapatan, kebutuhan, serta pengeluaran setiap keluarga berbeda sehingga kemampuan membeli dan menggunakan motor listrik juga tidak sama.

Selain itu, ekosistem kendaraan berbahan bakar bensin masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Bahkan, terdapat warga yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas jual beli bahan bakar.

Baca Juga: Kasus Bullying MTs Wlingi Berakhir Damai, Bapas Rekomendasikan Diversi dan Terlapor Pindah Sekolah

Kondisi tersebut membuat proses peralihan dari motor bensin ke motor listrik diperkirakan membutuhkan waktu. Masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga kendaraan, tetapi juga kemudahan penggunaan serta kesiapan ekosistem pendukung.

Dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam perkembangan industri motor listrik. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setiadi, menilai peresmian Molinas menunjukkan adanya komitmen pemerintah terhadap perkembangan kendaraan listrik.

Menurut Budi, intervensi pemerintah dapat mempercepat industri motor listrik nasional. Saat ini, terdapat 36 brand yang disebut telah berada dalam ekosistem Molinas dan siap mengikuti pengembangan kendaraan listrik.

Baca Juga: HP Flagship Bekas yang Harganya Anjlok, Ada yang Kini Rp2 Jutaan

Dukungan kebijakan serta pembiayaan dinilai dapat meningkatkan keyakinan pelaku industri dan investor terhadap prospek pasar motor listrik.

Dengan meningkatnya efisiensi biaya, dukungan regulasi, serta bertambahnya pilihan merek, motor listrik berpeluang semakin banyak digunakan masyarakat. Meski demikian, proses peralihan tetap membutuhkan kesiapan konsumen dan ekosistem secara menyeluruh.

Editor : Cecilia Dzakira Pasha
Hemat Motor Listrik Indonesia motor bensin Molinas motor listrik kendaraan listrik