Desil DTSEN Jadi Sorotan, Kenapa Orang Berpenghasilan Jutaan Bisa Masuk Desil 9 atau 10?

M. Helmi Nurhisam • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:30 WIB
Desil DTSEN tidak ditentukan hanya dari penghasilan. BPS menjelaskan alasan keluarga berpenghasilan jutaan bisa masuk desil 9 atau 10.(Pinterest)
Desil DTSEN tidak ditentukan hanya dari penghasilan. BPS menjelaskan alasan keluarga berpenghasilan jutaan bisa masuk desil 9 atau 10.(Pinterest)

JAKARTA - Desil DTSEN kembali menjadi sorotan setelah sejumlah masyarakat mempertanyakan hasil pemeringkatan kondisi sosial ekonomi keluarganya. Keluhan muncul karena ada warga yang tercatat berada di desil 9 atau 10, meski masih tinggal di rumah kontrakan dan memiliki penghasilan hanya beberapa juta rupiah per bulan.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menganggap data desil tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa desil DTSEN tidak ditentukan hanya berdasarkan penghasilan seseorang.

Desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan kondisi sosial ekonomi terendah, sedangkan desil 10 berada pada peringkat tertinggi.

Baca Juga: Cek Desil Bansos Lewat HP, Begini Cara Lihat Data NIK KTP dengan Mudah

Penghasilan Bukan Satu-satunya Penentu

BPS menjelaskan bahwa penentuan desil menggunakan berbagai indikator sosial ekonomi. Faktor yang diperhitungkan antara lain kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, usaha, hingga kesehatan.

Karena menggunakan banyak indikator, tidak terdapat batas penghasilan tertentu yang secara otomatis membuat sebuah keluarga masuk desil tertentu.

Artinya, penghasilan Rp2 juta, Rp3 juta, atau nominal lainnya tidak bisa berdiri sendiri sebagai penentu posisi desil. Kondisi ekonomi keluarga dilihat secara lebih luas berdasarkan sejumlah indikator yang tersedia dalam data.

Hal tersebut juga menjelaskan mengapa seseorang dengan penghasilan yang menurutnya tergolong rendah dapat tercatat dalam desil 9 atau 10. Pemeringkatan yang dilakukan bukan sekadar menghitung uang yang diterima setiap bulan.

Selain itu, desil DTSEN merupakan pemeringkatan pada tingkat keluarga, bukan individu. Penghasilan satu anggota keluarga tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan posisi seluruh keluarga.

Desil 9 dan 10 Tidak Otomatis Kaya

Kesalahpahaman lain yang muncul adalah anggapan bahwa desil 9 dan 10 sama dengan kategori orang kaya. BPS menegaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga dalam kelompok tersebut dapat sangat beragam.

Keluarga yang masuk desil 10 dapat berasal dari kelompok kelas menengah hingga keluarga dengan tingkat kekayaan yang sangat besar. Karena itu, tidak tepat jika seseorang langsung disebut kaya raya hanya karena tercatat berada pada desil 10.

Desil pada dasarnya menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Semakin tinggi desil, semakin tinggi pula posisi relatif kondisi sosial ekonomi keluarga dalam pemeringkatan.

Namun, posisi relatif tersebut tidak menggambarkan secara detail berapa jumlah kekayaan yang dimiliki sebuah keluarga.

Hal yang sama berlaku bagi desil 9. Dua keluarga yang berada pada desil yang sama belum tentu memiliki pendapatan, aset, tempat tinggal, atau gaya hidup yang sama persis.

Baca Juga: Cara Cek Desil Bansos di Cekbansos.go.id, Begini Posisi Desil 1 sampai 10

Berkaitan dengan Kebijakan Pemerintah

Data desil DTSEN menjadi penting karena dapat berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintah. Dalam pembahasan yang disampaikan, data tersebut juga dikaitkan dengan rencana pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Karena memiliki kaitan dengan kebijakan, masyarakat perlu memahami arti desil secara tepat. Hasil pemeringkatan sebaiknya tidak langsung diterjemahkan sebagai label kaya atau miskin.

Jika seseorang berada di desil 9 atau 10, informasi tersebut menunjukkan posisi relatif kondisi sosial ekonomi keluarganya dalam data. Sebaliknya, desil rendah juga merupakan hasil pemeringkatan berdasarkan sejumlah indikator, bukan sekadar angka penghasilan.

Dengan demikian, warga yang merasa kondisi ekonominya tidak sesuai dengan hasil desil tidak seharusnya hanya melihat nominal pendapatan untuk menilai apakah data tersebut benar atau salah.

Pemahaman mengenai cara kerja desil penting agar masyarakat tidak salah mengartikan data sosial ekonomi. Desil DTSEN bukan label kekayaan, melainkan peringkat kondisi sosial ekonomi keluarga berdasarkan berbagai indikator.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
Sumber : KONTAN TV
desil 10 desil DTSEN desil 9 bps Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional